Manchester City kembali menjadi sorotan setelah mantan pelatih Leeds United, Jesse Marsch, secara terbuka menyerukan hukuman berat bagi klub tersebut. Marsch menilai Manchester City seharusnya menerima sanksi berupa degradasi setelah dinyatakan bersalah dalam perkara pelanggaran aturan finansial Premier League.
Marsch, yang kini menjabat sebagai pelatih tim nasional Kanada, tidak hanya mempertanyakan beratnya hukuman yang akan dijatuhkan kepada Manchester City. Ia juga mengklaim bahwa persoalan finansial klub tersebut sebenarnya telah diketahui banyak pihak ketika dirinya masih bekerja di Premier League.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Marsch menegaskan bahwa Manchester City layak mendapatkan hukuman berat. Menurutnya, degradasi ke divisi yang lebih rendah merupakan konsekuensi yang pantas apabila putusan terhadap klub tersebut tetap berlaku setelah proses banding selesai.
“Saya rasa Manchester City harus dihukum berat. Saya rasa mereka harus terdegradasi ke divisi yang lebih rendah. Dan, omong-omong, semua orang sudah tahu soal itu,” ujar Marsch.
Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah komisi independen Premier League menyatakan Manchester City bersalah atas sejumlah pelanggaran serius terhadap regulasi finansial kompetisi Inggris.
Kasus tersebut berkaitan dengan periode antara 2009/10 hingga 2017/18. Dalam proses pemeriksaan, Premier League menuduh Manchester City menggunakan sejumlah kesepakatan komersial yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya untuk meningkatkan pendapatan dan menyembunyikan pengeluaran.
Nilai transaksi yang dipersoalkan juga sangat besar. Premier League menyebut adanya lebih dari 900 juta poundsterling yang berkaitan dengan dugaan penggelembungan pendapatan dan penyamaran kondisi finansial klub selama periode tersebut.
Manchester City sendiri tetap membantah melakukan pelanggaran. Klub menilai putusan komisi independen mengandung kesalahan dalam aspek hukum maupun fakta dan telah mengajukan banding terhadap keputusan tersebut.
Artinya, hingga proses banding selesai, belum dapat dikatakan bahwa seluruh konsekuensi olahraga terhadap Manchester City sudah bersifat final. Degradasi memang menjadi salah satu kemungkinan hukuman yang dibicarakan, tetapi keputusan akhir mengenai sanksi masih berada dalam proses.
Marsch Soroti Kejanggalan pada 2022
Marsch memiliki pengalaman langsung berada di Premier League ketika perkara finansial Manchester City masih menjadi bagian dari penyelidikan. Ia menangani Leeds United mulai Februari 2022 hingga dipecat pada Februari 2023.
Menurut Marsch, ada sejumlah hal yang membuat dirinya mempertanyakan kondisi keuangan Manchester City ketika masih bekerja di Inggris. Salah satu momen yang paling ia ingat terjadi pada musim panas 2022.
Pada periode tersebut, Leeds dan Manchester City sama-sama melaporkan keuntungan dalam laporan keuangan klub. Namun, situasi kedua klub menurut Marsch sangat berbeda.
Leeds memang memperoleh pemasukan besar setelah menjual sejumlah pemain. Raphinha dilepas ke Barcelona, sementara Kalvin Phillips pindah ke Manchester City. Kedua transaksi tersebut memberikan ruang finansial bagi Leeds untuk menjalankan aktivitas transfer berikutnya.
Marsch menjelaskan bahwa kondisi Leeds pada saat itu mengharuskan klub berhati-hati dalam mengelola keuangan. Kepemilikan Leeds, menurutnya, tidak memiliki sumber daya finansial yang memungkinkan klub mengeluarkan uang secara bebas.
Karena itu, ketika Manchester City juga menyatakan berhasil mencatat keuntungan, Marsch mengaku merasa heran.
Ia mempertanyakan bagaimana klub yang memiliki aktivitas transfer besar dan kemampuan finansial jauh lebih kuat dapat berada dalam posisi yang sama dengan Leeds dalam laporan keuangan.
“Ketika Manchester City mengatakan hal itu, saya benar-benar berpikir, apakah kalian bercanda? Apakah ini benar? Semacam lelucon?” kata Marsch.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keraguan Marsch bukan baru muncul setelah putusan komisi independen diumumkan. Ia mengaku telah melihat apa yang dianggapnya sebagai ketidaksesuaian ketika masih menjadi bagian dari kompetisi.
Transfer Haaland Ikut Disorot
Salah satu transaksi yang secara khusus disebut Marsch adalah kepindahan Erling Haaland dari Borussia Dortmund ke Manchester City pada musim panas 2022.
Manchester City merekrut Haaland dengan nilai transfer yang dilaporkan berada di kisaran 52 juta poundsterling. Saat itu, transfer tersebut dianggap sebagai salah satu perekrutan paling penting pada bursa transfer musim panas.
Namun, Marsch mengaku angka tersebut membuatnya semakin mempertanyakan kondisi finansial Manchester City.
“Ketika mereka mengatakan mendapatkan Erling Haaland seharga 52 juta poundsterling, rasanya seperti, ya, baiklah, tentu saja,” ujar Marsch.
Ia kemudian mengatakan bahwa dirinya merasa mengetahui adanya sejumlah kejanggalan, tetapi pada saat itu tidak banyak yang dapat dilakukan.
Menurut Marsch, dirinya hanya bisa menerima situasi tersebut sebagai bagian dari sepak bola dan menjalankan pekerjaannya bersama Leeds.
Pernyataan Marsch kini kembali menjadi perhatian setelah komisi independen memberikan putusan terhadap kasus finansial Manchester City. Kritik tersebut juga datang ketika klub masih memiliki kesempatan untuk membatalkan atau mengubah putusan melalui proses banding.
Manchester City Masih Berjuang Lewat Banding
Manchester City telah menegaskan bahwa mereka tidak menerima keputusan komisi independen tersebut. Klub mengajukan banding dan tetap mempertahankan posisi bahwa mereka tidak melakukan pelanggaran seperti yang dituduhkan.
Proses banding akan ditangani oleh panel independen yang terdiri dari tiga anggota. Karena itu, hukuman akhir Manchester City belum dapat dipastikan.
Sejumlah kemungkinan sanksi telah dibicarakan, mulai dari denda, pengurangan poin, pencabutan gelar, hingga degradasi. Namun, belum ada keputusan final mengenai bentuk maupun tingkat hukuman yang akan diterapkan.
Reuters melaporkan bahwa Manchester City mengajukan banding pada awal Oktober 2026. Proses tersebut akan berlangsung secara tertutup dan hasil akhirnya akan menentukan langkah berikutnya dalam kasus yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tersebut.
Kasus ini menjadi salah satu perkara finansial paling serius dalam sejarah Premier League. Putusan komisi menyatakan Manchester City melakukan pelanggaran serius terhadap aturan finansial selama periode sembilan musim, sementara klub terus mempertahankan pembelaannya.
Dampaknya Bisa Sangat Besar
Apabila putusan terhadap Manchester City nantinya tetap dipertahankan, klub dapat menghadapi konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar hukuman finansial.
Degradasi menjadi salah satu opsi yang secara terbuka dibicarakan. Jika benar diterapkan, hukuman tersebut akan menjadi pukulan luar biasa bagi klub yang dalam lebih dari satu dekade terakhir berkembang menjadi salah satu kekuatan terbesar sepak bola Inggris dan Eropa.
Namun, sebelum keputusan final keluar, segala kemungkinan masih terbuka.
Marsch sendiri memiliki pandangan yang sangat tegas. Ia menilai pelanggaran yang terjadi tidak semestinya hanya berujung pada hukuman administratif atau denda. Menurutnya, apabila pelanggaran tersebut terbukti memberikan keuntungan kompetitif selama bertahun-tahun, maka hukuman juga harus memiliki konsekuensi terhadap posisi klub di kompetisi.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan sejumlah mantan pemain dan tokoh sepak bola Inggris yang meminta hukuman berat bagi Manchester City. Meski demikian, keputusan akhir tetap harus mengikuti proses hukum dan banding yang sedang berlangsung.
Marsch kini tidak lagi berada di lingkungan Premier League. Setelah meninggalkan Leeds, ia melanjutkan karier sebagai pelatih dan kemudian dipercaya menangani tim nasional Kanada.
Namun, pengalamannya selama berada di sepak bola Inggris membuat komentarnya mengenai Manchester City mendapat perhatian luas.
Ia bukan satu-satunya figur yang mempertanyakan dampak kasus tersebut terhadap sejarah Premier League. Setelah putusan diumumkan, perdebatan mengenai kemungkinan pencabutan gelar, pengurangan poin, hingga degradasi Manchester City terus berkembang.
Yang jelas, Manchester City belum menerima hukuman final. Klub masih memiliki jalur banding untuk mempertahankan posisinya.
Sementara itu, pernyataan Marsch memperlihatkan bahwa kontroversi ini tidak hanya berkaitan dengan angka-angka dalam laporan keuangan. Bagi sebagian pelaku sepak bola yang pernah berada di Premier League, perkara tersebut juga menyentuh persoalan kepercayaan dan kesetaraan kompetisi.
Dengan proses banding yang masih berjalan, dunia sepak bola kini menunggu apakah putusan tersebut akan bertahan dan, jika demikian, seberapa berat hukuman yang akhirnya harus diterima Manchester City.
