Manchester City menghadapi babak baru dalam persoalan hukum yang tengah membayangi klub setelah salah satu sponsor utamanya, Etihad Airways, menyatakan keberatan keras terhadap cara Premier League mengomunikasikan hasil putusan kasus finansial yang melibatkan klub tersebut.

Maskapai asal Uni Emirat Arab itu bahkan menyatakan sedang mempertimbangkan langkah hukum untuk melindungi kepentingannya. Sikap tersebut muncul setelah berbagai laporan mengenai hasil pemeriksaan komisi independen Premier League menyebut Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir seluruh dakwaan yang diajukan terhadap mereka.

Etihad menegaskan bahwa perusahaan tidak menerima temuan atau kesimpulan yang menurut mereka memberikan kesan bahwa maskapai tersebut pernah terlibat dalam pengaturan komersial yang tidak semestinya.

Dalam pernyataannya, Etihad menyebut akan mencari nasihat hukum yang relevan guna melindungi kepentingan perusahaan. Sponsor utama Manchester City itu juga mempertanyakan bagaimana informasi mengenai perkara tersebut disampaikan kepada publik.

Sikap Etihad menjadi perkembangan terbaru dalam kasus finansial Manchester City yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Perkara tersebut bermula dari rujukan Premier League terhadap klub ke komisi independen pada Februari 2023 setelah kompetisi Inggris itu menuduh City melakukan berbagai pelanggaran terhadap regulasi finansial.

Kasus tersebut mencakup dugaan pelanggaran selama sejumlah musim, termasuk persoalan penyampaian informasi keuangan, pendapatan, pembayaran kepada pemain dan manajer, kepatuhan terhadap aturan UEFA, serta kewajiban klub bekerja sama dengan proses penyelidikan.

Manchester City sejak awal membantah tuduhan tersebut. Klub mempertahankan posisi bahwa mereka memiliki bukti yang dapat mendukung pembelaan terhadap berbagai dakwaan yang diajukan Premier League.

Sidang komisi independen berlangsung pada 2024 dan baru memasuki fase keputusan pada September 2026. Laporan mengenai hasil pemeriksaan menyebut City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan yang diajukan.

Meski demikian, proses tersebut belum sepenuhnya berakhir. Manchester City masih memiliki hak untuk mengajukan banding dan sanksi terhadap klub juga belum ditentukan secara final.

Dalam situasi tersebut, keberatan Etihad menjadi perhatian karena perusahaan merasa ikut terdampak oleh cara informasi mengenai putusan tersebut disampaikan.

Etihad menyatakan bahwa mereka tidak disebut secara langsung dalam temuan yang telah dipublikasikan dalam bentuk yang telah disunting. Namun, perusahaan menilai munculnya berbagai pemberitaan dan narasi mengenai dugaan kesepakatan komersial telah memberikan dampak negatif terhadap reputasi mereka.

Perusahaan juga mempertanyakan mengapa Premier League tidak menghubungi Etihad untuk melakukan verifikasi mengenai akurasi dan keadilan informasi yang digunakan sebagai bagian dari kesimpulan.

Etihad menyebut pihaknya “sangat prihatin” dengan cara persoalan tersebut dikomunikasikan kepada publik. Mereka juga menilai Premier League harus mempertanggungjawabkan konsekuensi yang muncul akibat penyajian temuan tersebut.

Sikap sponsor tersebut menambah tekanan terhadap Premier League yang kini harus menghadapi konsekuensi dari keputusan komisi independen. Persoalan ini bukan hanya menyangkut hubungan antara regulator dan Manchester City, tetapi juga berpotensi memengaruhi pihak-pihak komersial yang memiliki hubungan dengan klub.

Bagi Manchester City, situasi tersebut menjadi salah satu periode paling serius dalam sejarah modern klub. Selama bertahun-tahun, City berkembang menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Inggris setelah perubahan kepemilikan pada 2008.

Klub tersebut kemudian memenangkan delapan gelar liga Inggris pada era tersebut dan membangun hubungan komersial dengan sejumlah perusahaan besar, termasuk Etihad.

Namun, laporan mengenai putusan kasus finansial tersebut kembali membawa perhatian terhadap bagaimana klub membiayai operasional dan kesepakatan komersialnya selama periode yang menjadi objek penyelidikan.

Manchester City tetap mempertahankan sikap bahwa klub tidak melakukan kesalahan sebagaimana yang dituduhkan. CEO Ferran Soriano sebelumnya juga menyatakan bahwa pihak klub akan menggunakan jalur banding untuk menentang keputusan tersebut.

Soriano bahkan mengatakan kepada staf klub bahwa Manchester City akan terus mempertahankan diri melalui proses hukum. Ia menilai keputusan komisi tersebut mengandung kesalahan dalam aspek hukum, prinsip, maupun fakta.

Pihak klub juga mengingat kembali pengalaman mereka pada 2020 ketika Manchester City berhasil membatalkan larangan tampil di kompetisi Eropa yang sebelumnya dijatuhkan UEFA setelah perkara tersebut dibawa ke Pengadilan Arbitrase Olahraga atau CAS.

Kini, klub kembali bersiap menggunakan jalur hukum untuk menghadapi keputusan terbaru.

Di tengah perkembangan tersebut, manajer Pep Guardiola juga memberikan dukungan terhadap klub. Guardiola menyatakan dirinya tetap berada di belakang pemilik dan Manchester City dalam menghadapi situasi yang sedang berlangsung.

Menurut Guardiola, persoalan tersebut merupakan sesuatu yang harus dihadapi bersama oleh seluruh elemen klub.

Sementara itu, fokus berikutnya tertuju pada proses banding Manchester City. Klub memiliki batas waktu hingga 2 Oktober untuk mengajukan banding resmi terhadap keputusan tersebut, menurut laporan Goal.

Setelah proses banding berjalan, barulah akan semakin jelas bagaimana nasib putusan komisi independen dan bentuk sanksi yang mungkin diterapkan terhadap klub.

Sanksi sendiri belum ditentukan. Berbagai kemungkinan dapat muncul berdasarkan hasil akhir proses hukum, termasuk hukuman finansial maupun sanksi olahraga. Namun, belum tepat untuk menyimpulkan bentuk hukuman tertentu sebelum seluruh proses selesai.

Situasi ini juga menjadikan posisi Etihad menarik untuk diperhatikan. Sebagai sponsor utama Manchester City, maskapai tersebut memiliki kepentingan komersial dan reputasi yang berkaitan erat dengan klub.

Ancaman untuk mencari nasihat hukum menunjukkan bahwa persoalan yang awalnya berpusat pada hubungan antara Manchester City dan Premier League kini mulai merambah ke ranah yang lebih luas.

Bagi Premier League, cara penyampaian informasi mengenai putusan menjadi bagian penting dari persoalan tersebut. Sementara bagi Etihad, dampak reputasi akibat pemberitaan mengenai hubungan komersial dengan Manchester City menjadi alasan utama mereka mempertanyakan proses komunikasi yang dilakukan.

Dengan demikian, perkembangan terbaru ini tidak serta-merta mengubah status hukum Manchester City maupun menentukan kesalahan Etihad. Yang terjadi saat ini adalah adanya keberatan terbuka dari sponsor terhadap cara temuan kasus disampaikan kepada publik, sementara Manchester City sendiri masih memiliki jalur banding.

Perkara tersebut pada akhirnya masih akan bergantung pada proses hukum berikutnya. Sampai keputusan final dan sanksi resmi ditetapkan, seluruh pihak yang terlibat masih memiliki ruang untuk menyampaikan pembelaan masing-masing.

Manchester City kini harus mempersiapkan proses banding, sementara Etihad mempertimbangkan langkah untuk melindungi kepentingannya. Premier League pun menghadapi tuntutan untuk mempertanggungjawabkan bagaimana temuan kasus yang sangat sensitif tersebut disampaikan kepada publik.

Babak baru kasus finansial Manchester City pun kembali bergulir, kali ini dengan keterlibatan langsung salah satu mitra komersial terbesar klub.