Serie A 2026/27 memasuki babak baru dalam urusan perwasitan. Setelah pergantian kepemimpinan dari Gianluca Rocchi kepada Daniele Orsato sebagai penunjuk wasit, kompetisi kasta tertinggi Italia mulai menerapkan pendekatan yang berbeda dalam memimpin pertandingan.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah bagaimana VAR digunakan.
Teknologi yang selama beberapa musim terakhir kerap menjadi pusat kontroversi kini justru akan digunakan dengan pendekatan yang lebih terbatas. VAR tidak dimaksudkan untuk mengoreksi setiap kontak atau keputusan yang masih berada di wilayah abu-abu. Intervensi hanya dilakukan ketika terdapat kesalahan yang jelas dan nyata atau ketika wasit di lapangan tidak melihat sebuah kejadian dengan baik.
Namun, pendekatan baru tersebut langsung menghadapi ujian besar pada pekan kelima Serie A.
Pertandingan Juventus melawan Atalanta menjadi salah satu contoh paling ramai dibicarakan setelah Pierre Kalulu terlihat menarik Jonathan Rowe di dalam kotak penalti. Wasit tidak memberikan penalti dan VAR juga tidak meminta pemeriksaan ulang melalui layar.
Beberapa jam kemudian, perdebatan semakin besar.
Maurizio Sarri bahkan mempertanyakan fungsi VAR setelah pertandingan. Menurut pelatih Atalanta tersebut, kejadian itu terlalu jelas untuk dibiarkan begitu saja.
Kini, Orsato memberikan jawaban resmi.
Dalam pertemuan antara jajaran wasit dan para pelatih Serie A di Lissone, Senin 21 September 2026, Orsato secara terbuka mengakui bahwa keputusan dalam insiden Kalulu-Rowe memang keliru. Menurut evaluasi tim perwasitan, kejadian tersebut seharusnya berujung pada penalti untuk Atalanta.
Pengakuan itu menjadi bagian dari evaluasi besar-besaran terhadap sejumlah keputusan wasit yang terjadi pada awal musim.
Pertemuan Penting Wasit dan Pelatih Serie A
Pertemuan di Lissone menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya pada musim ini jajaran perwasitan bertemu langsung dengan perwakilan seluruh klub Serie A untuk membahas standar baru.
Daniele Orsato hadir bersama direktur teknis Domenico Messina. Para pelatih maupun perwakilan klub mendapatkan penjelasan mengenai cara kerja sistem perwasitan yang baru, termasuk bagaimana VAR akan digunakan.
Tidak seluruh pelatih hadir secara langsung.
Beberapa di antaranya mengirim asisten karena berbagai alasan. Nama-nama yang absen antara lain Gian Piero Gasperini, Maurizio Sarri, Massimiliano Allegri, Massimiliano Alvini, dan Eusebio Di Francesco. Para pelatih tersebut tetap diwakili oleh stafnya masing-masing.
Meski demikian, partisipasi klub disebut sangat tinggi. Tujuan utama pertemuan tersebut bukan sekadar membahas kesalahan masa lalu, tetapi mencari keseragaman dalam interpretasi aturan.
Para klub ingin mengetahui dengan jelas standar seperti apa yang digunakan wasit ketika menentukan pelanggaran, handball, offside, penalti, hingga kapan VAR boleh ikut campur.
Dengan demikian, para pelatih juga dapat menjelaskan standar tersebut kepada para pemain mereka.
Orsato: VAR Tidak Dimatikan
Salah satu poin paling penting yang disampaikan Orsato adalah bahwa VAR tidak benar-benar dikurangi karena dianggap gagal.
Teknologi tersebut tetap menjadi bagian penting dari pertandingan.
Namun, cara penggunaannya berubah.
Orsato menegaskan bahwa VAR hanya perlu melakukan intervensi ketika wasit tidak melihat sebuah kejadian atau tidak melihatnya dengan cukup baik, terutama ketika terjadi kesalahan yang jelas dan nyata.
Dengan pendekatan tersebut, kejadian yang berada di wilayah interpretasi wasit tidak akan otomatis diperiksa ulang.
Prinsipnya sederhana: keputusan di lapangan tetap menjadi pusat.
VAR hadir sebagai alat koreksi ketika memang diperlukan, bukan sebagai perangkat untuk mengulang setiap keputusan.
Laporan ANSA menyebut Orsato menegaskan bahwa petugas VAR akan bekerja dengan prinsip tersebut. Wasit yang berada di lapangan tetap menjadi pengambil keputusan utama, sementara teknologi digunakan ketika terdapat alasan yang kuat untuk melakukan koreksi.
Pendekatan tersebut juga dimaksudkan agar pertandingan menjadi lebih mengalir.
Pada awal musim, waktu bermain efektif Serie A meningkat. Rata-rata pelanggaran juga menurun dibandingkan musim sebelumnya, begitu pula jumlah penalti dan kartu merah.
Kasus Kalulu-Rowe Diakui sebagai Kesalahan
Kasus yang paling mencolok tentu saja terjadi dalam pertandingan Juventus kontra Atalanta.
Saat Juventus masih unggul 1-0, Rowe berhasil bergerak melewati Kalulu dan masuk ke area penalti. Bek Juventus tersebut kemudian menarik kaus pemain Atalanta dengan cukup jelas.
Rowe jatuh.
Atalanta meminta penalti.
Namun, wasit Zufferli tidak menunjuk titik putih.
Yang lebih membuat Atalanta kecewa adalah VAR tidak memanggil wasit untuk melihat ulang kejadian tersebut.
Pertandingan akhirnya berlanjut dan Juventus berhasil memenangkan laga dengan skor 2-0.
Setelah pertandingan, Sarri mempertanyakan mengapa VAR tidak ikut melakukan pemeriksaan.
Menurut Sarri, secara umum dirinya justru menyukai pendekatan baru yang membuat VAR tidak terlalu sering digunakan. Namun, ia merasa kasus seperti Kalulu-Rowe berbeda karena kontak tersebut dianggap cukup jelas.
Dalam pertemuan di Lissone, Orsato akhirnya mengonfirmasi bahwa evaluasi internal mereka sejalan dengan pandangan tersebut.
Kalulu seharusnya dihukum dengan penalti.
Dengan kata lain, VAR seharusnya melakukan intervensi dalam situasi tersebut.
Pengakuan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa sistem baru bukan berarti jajaran wasit menganggap keputusan mereka selalu benar.
Sebaliknya, kesalahan tetap diakui ketika evaluasi menunjukkan bahwa keputusan yang dibuat memang keliru.
Lima Kesalahan Besar yang Diakui
Kasus Kalulu-Rowe bukan satu-satunya kesalahan yang dibahas.
Menurut laporan Football Italia, terdapat lima kesalahan utama yang diakui Orsato pada awal musim 2026/27. Empat terjadi di Serie A dan satu terjadi di Coppa Italia.
Pertama adalah insiden Kalulu terhadap Rowe.
Kedua terjadi dalam pertandingan Coppa Italia antara Fiorentina dan Pisa. Tarikan Antonio Caracciolo terhadap Mateo Pellegrino juga dinilai seharusnya menghasilkan penalti.
Ketiga terjadi dalam pertandingan Fiorentina melawan Frosinone. Alex Jimenez seharusnya menerima kartu merah.
Keempat terjadi ketika Torino menghadapi AC Milan. Handball Nikola Vlasic dinilai layak menghasilkan penalti setelah pemeriksaan VAR.
Kelima adalah pelanggaran Maxence Caqueret terhadap Sascha Britschgi dalam pertandingan Como kontra Parma. Menurut evaluasi Orsato, Caqueret seharusnya menerima kartu merah.
Lima keputusan tersebut menjadi bukti bahwa penerapan standar baru tetap membutuhkan proses penyesuaian.
Namun, menariknya, Orsato tidak hanya menunjukkan kesalahan.
Ia juga menjelaskan sejumlah keputusan yang menurutnya sudah benar meskipun kontroversial.
De Bruyne dan Heggem-Oristanio Bukan Kesalahan VAR
Dua kasus yang ikut dibahas adalah dorongan Kevin De Bruyne terhadap Johan Vasquez dalam proses terciptanya gol Napoli melawan Genoa serta benturan antara Torbjorn Heggem dan Gaetano Oristanio dalam pertandingan Bologna kontra Torino.
Kedua insiden tersebut sempat memunculkan perdebatan.
Namun, Orsato mempertahankan keputusan wasit.
Alasannya adalah wasit berada dalam posisi yang memungkinkan mereka melihat kejadian secara langsung dan telah membuat keputusan di lapangan.
Dalam situasi semacam itu, VAR tidak seharusnya otomatis masuk.
Jika wasit melihat kontak dan menilai tidak ada pelanggaran, keputusan tersebut tidak bisa dibatalkan hanya karena ada perdebatan mengenai interpretasinya.
VAR baru seharusnya digunakan apabila terdapat kesalahan yang jelas dan nyata.
Inilah garis batas yang sedang berusaha dibangun oleh Orsato dan timnya.
Perubahan Ini Membuat Serie A Lebih Mengalir
Terlepas dari kontroversi yang muncul, perubahan pendekatan tersebut sudah memberikan beberapa statistik menarik.
Menurut data yang dipaparkan ANSA, setelah beberapa pekan awal musim, waktu bermain efektif meningkat menjadi sekitar 59 menit 31 detik. Rata-rata pelanggaran juga turun dari 26,23 per pertandingan pada periode yang sama musim sebelumnya menjadi 22,60.
Jumlah penalti juga turun cukup tajam, begitu pula kartu merah.
Intervensi VAR pun berkurang drastis. Hanya ada satu on-field review pada periode yang dibandingkan, sedangkan musim sebelumnya tercatat enam.
Presiden Lega Serie A Ezio Simonelli mengakui bahwa pendekatan baru tersebut masih memiliki kekurangan, tetapi ia menilai ada sisi positif yang terlihat.
Menurut Simonelli, pertandingan menjadi lebih hidup karena waktu efektif bermain meningkat dan jumlah peluit berkurang.
Namun, ia juga menekankan bahwa beberapa aspek tetap harus diperbaiki.
Klub Meminta Keseragaman
Salah satu permintaan utama klub-klub Serie A adalah konsistensi.
Pelatih tidak meminta agar setiap keputusan selalu menguntungkan tim mereka.
Mereka ingin mengetahui standar yang digunakan.
Jika sebuah kontak dianggap pelanggaran pada satu pertandingan, mereka ingin kontak yang serupa dinilai dengan standar yang sama di pertandingan lain.
Hal tersebut penting karena pemain harus mengetahui batas permainan yang diperbolehkan.
"Keseragaman dan kejelasan" menjadi inti pembahasan dalam pertemuan tersebut, menurut Simonelli.
Luciano Spalletti, pelatih Juventus, termasuk salah satu sosok yang memberikan respons positif terhadap pertemuan tersebut.
Ia menilai dialog langsung antara pelatih dan jajaran perwasitan penting agar klub dapat memahami parameter baru yang digunakan.
Pelatih lain juga memberikan respons positif.
Raffaele Palladino bahkan memberikan pujian terhadap pendekatan baru tersebut dan menyebut sepak bola kini terasa lebih jelas dan lebih menarik.
Namun, di balik dukungan tersebut, tetap ada catatan bahwa sistem baru membutuhkan penyempurnaan.
Orsato Ingin Kesalahan Tidak Terulang
Yang menarik dari pertemuan tersebut adalah sikap Orsato terhadap kesalahan.
Ia tidak berusaha menutupi keputusan yang ternyata keliru.
Sebaliknya, sejumlah kejadian ditampilkan kembali dalam bentuk video untuk dibahas bersama.
Sekitar 30 insiden dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk perbedaan antara kontak dan pelanggaran, handball, offside semi-otomatis, hingga keputusan VAR.
Bagi Orsato, kesalahan memang mungkin terjadi karena pertandingan sepak bola dimainkan dalam tempo tinggi dan keputusan harus dibuat dalam hitungan detik.
Namun, persoalan utamanya adalah bagaimana kesalahan tersebut tidak terus berulang.
Terutama ketika pola kesalahan yang sama terjadi dalam situasi yang serupa.
Karena itu, pertemuan antara wasit dan pelatih menjadi bagian penting dari proses evaluasi.
Wasit dapat menjelaskan sudut pandang mereka.
Pelatih dapat menyampaikan kebingungan yang dirasakan tim.
Kemudian, kedua pihak bisa menemukan pemahaman yang sama mengenai aturan.
Era Baru Perwasitan Serie A
Pergantian dari Rocchi ke Orsato membawa Serie A memasuki era baru dalam pendekatan terhadap perwasitan.
Filosofinya terlihat jelas: pertandingan harus lebih banyak dimainkan dan lebih sedikit dihentikan oleh pelanggaran ringan.
VAR tetap ada, tetapi tidak menjadi pusat dari setiap keputusan.
Wasit di lapangan kembali ditempatkan sebagai figur utama.
Namun, kasus Kalulu-Rowe menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tetap memiliki batas.
Ketika sebuah kesalahan memang jelas, VAR harus digunakan.
Orsato sendiri telah mengakuinya.
Inilah keseimbangan yang sedang dicari Serie A.
Di satu sisi, pertandingan ingin dibuat lebih mengalir dan tidak terputus oleh terlalu banyak pemeriksaan.
Di sisi lain, teknologi tetap harus mampu mencegah kesalahan besar yang dapat memengaruhi hasil pertandingan.
Pertemuan di Lissone menjadi langkah awal untuk mencari titik keseimbangan tersebut.
Dan yang paling penting, klub-klub kini mengetahui lebih jelas apa yang diharapkan dari sistem baru.
Kesalahan akan tetap terjadi dalam sepak bola.
Wasit juga manusia.
Namun, dengan adanya komunikasi langsung dan evaluasi terbuka, Serie A berharap kesalahan seperti Kalulu-Rowe, penalti yang terlewat dalam kasus Caracciolo-Pellegrino, kartu merah Jimenez, handball Vlasic, hingga pelanggaran Caqueret dapat menjadi bahan pembelajaran.
Bagi Daniele Orsato, tantangannya bukan membuat wasit tidak pernah salah.
Tantangannya adalah memastikan standar penilaian semakin konsisten, VAR digunakan pada momen yang tepat, dan kesalahan yang sudah diketahui tidak kembali terulang.
Serie A kini memasuki fase eksperimen penting dalam dunia perwasitan. Hasil akhirnya akan sangat bergantung pada bagaimana para wasit, VAR, pelatih, dan pemain beradaptasi dengan garis baru tersebut. Yang sudah pasti, kontroversi Kalulu-Rowe menjadi pengingat bahwa meski VAR kini lebih jarang turun tangan, teknologi itu tetap harus hadir ketika kesalahan yang terjadi benar-benar jelas.
