Awal musim Napoli bersama Massimiliano Allegri kembali menjadi bahan perdebatan. Setelah sejumlah hasil yang belum sepenuhnya meyakinkan, kritik terhadap permainan Partenopei mulai bermunculan. Salah satu suara paling keras datang dari Lele Adani, mantan pemain sekaligus analis sepak bola Italia yang selama bertahun-tahun dikenal cukup vokal dalam mengomentari permainan klub-klub Serie A.
Adani secara terbuka mempertanyakan kualitas permainan Napoli ketika menghadapi Fiorentina. Menurutnya, skuad yang dimiliki Allegri seharusnya mampu menghasilkan permainan yang jauh lebih baik dibandingkan apa yang terlihat di lapangan.
Bagi Adani, persoalannya bukan sekadar hasil akhir. Napoli memang mampu membawa pulang satu poin dari Florence setelah pertandingan berakhir imbang 1-1, tetapi performa mereka dinilai tidak mencerminkan kualitas pemain yang tersedia.
Adani bahkan menggunakan istilah yang cukup tajam untuk menggambarkan permainan Napoli. Ia menilai klub asal Naples tersebut memainkan sepak bola yang "biasa-biasa saja" atau berada di bawah standar yang semestinya mereka tunjukkan.
Sorotan Adani juga tertuju kepada Rasmus Højlund. Penyerang asal Denmark tersebut dipercaya sebagai ujung tombak utama Napoli setelah kepergian Romelu Lukaku. Namun, dalam pertandingan melawan Fiorentina, Højlund ditarik keluar pada menit ke-57 dan sepanjang pertandingan terlihat kesulitan mendapatkan suplai bola.
Bagi Adani, kondisi tersebut menggambarkan persoalan yang lebih besar di dalam permainan Napoli.
Ia bahkan menggambarkan Højlund seperti berada "di gurun", sebuah metafora untuk menunjukkan betapa terisolasinya sang penyerang dari aliran permainan tim.
Adani Pertanyakan Identitas Napoli
Napoli memasuki musim baru dengan ekspektasi tinggi. Setelah finis sebagai runner-up Serie A musim lalu, klub tersebut melakukan sejumlah perubahan penting, termasuk menunjuk Allegri sebagai pelatih.
Kehadiran Allegri membawa harapan bahwa Napoli bisa kembali menjadi salah satu kekuatan utama di Italia.
Namun, perjalanan awal musim tidak berjalan semulus yang diharapkan.
Dalam lima pertandingan Serie A, Napoli baru mengoleksi tujuh poin dan hanya mencetak tujuh gol. Catatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa persoalan lini serang mulai mendapatkan perhatian besar. Goal Italia bahkan mencatat bahwa produksi tujuh gol dalam lima giornata tersebut merupakan angka terendah Napoli dalam 21 tahun terakhir.
Kondisi itu membuat komentar Adani menjadi semakin relevan dalam perdebatan mengenai arah permainan Napoli.
Saat berbicara di program La Domenica Sportiva, Adani membandingkan Napoli dengan sejumlah tim yang secara teori memiliki sumber daya lebih terbatas. Menurutnya, Napoli seharusnya mampu menunjukkan intensitas dan kualitas permainan yang lebih tinggi.
Ia mempertanyakan mengapa Napoli tidak mampu tampil dengan level yang menurutnya sesuai dengan kualitas skuad.
Adani bahkan mengatakan dirinya tidak bisa memahami sikap Napoli ketika menghadapi Fiorentina.
Menurutnya, Fiorentina memang bisa memenangkan pertandingan tersebut, tetapi Napoli juga sebenarnya mempunyai peluang untuk membawa pulang tiga poin.
Masalahnya, permainan Napoli dianggap terlalu lambat dan tidak memberikan tekanan yang cukup kepada lawan.
"Menurut saya, mereka memainkan sepak bola yang biasa-biasa saja. Dari sudut pandang saya, mereka juga bisa memenangkan pertandingan ini, tetapi Fiorentina juga bisa memenangkannya," ujar Adani dalam komentarnya.
Kritik tersebut jelas diarahkan kepada keseluruhan permainan, bukan hanya kepada satu pemain.
Højlund Disebut Bermain "di Gurun"
Salah satu bagian paling menarik dari kritik Adani adalah ketika membahas Højlund.
Napoli berharap penyerang Denmark tersebut bisa menjadi solusi setelah Lukaku tidak lagi menjadi bagian dari proyek mereka. Højlund memang sudah mengenal Serie A karena sebelumnya bermain bersama Atalanta.
Ia kemudian menjalani periode sulit di Manchester United sebelum kembali ke Italia dan memperkuat Napoli.
Musim lalu, Højlund memberikan kontribusi penting selama masa peminjamannya di Naples. Performa tersebut menjadi salah satu alasan Napoli akhirnya memilih mempertahankannya secara permanen.
Namun, di bawah Allegri, Højlund menghadapi tantangan baru.
Dalam pertandingan melawan Fiorentina, ia tidak banyak mendapatkan bola di area berbahaya. Kondisi tersebut membuat kontribusinya menjadi terbatas.
Adani kemudian menggambarkannya secara ekstrem.
"Højlund ditarik keluar pada menit ke-57, setelah bermain di gurun selama hampir satu jam," kata Adani.
Istilah "gurun" tentu bukan gambaran literal, melainkan kritik terhadap bagaimana Højlund kurang mendapatkan dukungan dari permainan Napoli.
Seorang penyerang tengah membutuhkan suplai bola yang cukup. Tanpa umpan dari lini tengah dan pemain sayap, striker bisa terlihat seolah-olah menghilang dari pertandingan.
Situasi tersebut tampaknya yang menjadi perhatian Adani.
Masalahnya, statistik awal musim juga memberikan konteks terhadap kritik tersebut. Laporan Goal Italia menyebut Højlund termasuk penyerang tengah yang relatif sedikit menyentuh bola di dalam kotak penalti lawan pada awal musim. Napoli secara keseluruhan juga belum termasuk tim dengan produksi peluang terbaik di Serie A.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya apakah Højlund mampu mencetak gol atau tidak.
Ada pertanyaan lebih besar mengenai apakah sistem Napoli mampu membuat penyerang utama mereka mendapatkan peluang yang cukup.
Allegri Diminta Mengubah Sesuatu
Adani tidak secara spesifik memberikan satu formasi tertentu yang harus digunakan Allegri.
Namun, inti kritiknya jelas: Napoli harus mengubah cara mereka bermain.
Menurut Adani, kualitas pemain yang dimiliki Napoli seharusnya menghasilkan penampilan yang berbeda.
Napoli memiliki pemain seperti Kevin De Bruyne, Højlund, Stanislav Lobotka, Billy Gilmour, Scott McTominay, Frank Zambo Anguissa, hingga David Neres.
Kehadiran De Bruyne secara khusus meningkatkan ekspektasi terhadap kreativitas lini tengah.
Gelandang asal Belgia tersebut dikenal memiliki kemampuan memberikan umpan terobosan, menciptakan peluang, serta mencetak gol dari lini kedua.
Karena itu, ketika Napoli kesulitan menciptakan peluang untuk penyerang, pertanyaan mengenai bagaimana sistem Allegri memanfaatkan De Bruyne menjadi tidak terhindarkan.
Adani juga menyinggung pergantian pemain dalam pertandingan melawan Fiorentina.
Anguissa baru dimainkan pada menit ke-90, sementara Vergara tidak mendapatkan kesempatan bermain.
Bagi Adani, keputusan tersebut menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar.
Ia mempertanyakan bagaimana Allegri mengelola skuad dengan kualitas yang tersedia.
Napoli Memang Mengalami Masalah di Lini Serang
Terlepas dari kritik Adani, statistik Napoli pada awal musim memang menunjukkan adanya persoalan dalam produktivitas.
Dalam lima pertandingan Serie A, mereka baru mencetak tujuh gol.
Angka tersebut cukup kontras dengan performa Napoli pada periode-periode sebelumnya, ketika tim sering menjadi salah satu klub paling produktif di Italia.
Goal Italia mencatat bahwa Napoli musim ini bahkan berada di bawah sejumlah klub yang secara tradisional tidak memiliki reputasi sebesar mereka dalam hal produktivitas gol.
Hasil tujuh poin dari lima pertandingan juga belum sesuai dengan ekspektasi sebuah tim yang musim lalu finis di posisi kedua.
Napoli membuka musim dengan kemenangan atas Genoa, tetapi kemudian mengalami kekalahan dari Como dan Inter serta kalah dari Arsenal di Liga Champions sebelum menang tipis atas Bologna.
Kemenangan 1-0 atas Bologna memang memberikan tiga poin penting, tetapi pertandingan tersebut juga menunjukkan bahwa Napoli belum sepenuhnya menemukan ketajaman mereka.
Satu-satunya gol dalam pertandingan itu dicetak Stanislav Lobotka pada menit ke-66 setelah assist dari Favasuli.
Kemudian ketika menghadapi Fiorentina, Napoli kembali hanya mampu mencetak satu gol.
Billy Gilmour membawa Napoli unggul sebelum Fiorentina menyamakan kedudukan.
Hasil akhir 1-1 membuat Napoli gagal membawa pulang kemenangan.
Højlund Tidak Bisa Disalahkan Sendirian
Menariknya, kritik terhadap Højlund harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.
Penyerang tidak selalu bisa dinilai hanya berdasarkan jumlah gol.
Jika seorang striker jarang menerima bola di kotak penalti, kesulitan mendapatkan umpan terobosan, dan harus turun terlalu jauh untuk mencari bola, maka peluang mencetak gol secara otomatis ikut berkurang.
Itulah sebabnya komentar Adani tentang Højlund sebenarnya lebih banyak berbicara mengenai struktur permainan Napoli.
Adani tidak hanya mengatakan Højlund tampil buruk.
Ia justru menggambarkan bahwa sang penyerang berada dalam situasi yang tidak ideal.
Ini menjadi tantangan bagi Allegri.
Pelatih harus memastikan striker utamanya tidak terisolasi.
Jika Napoli terus membuat Højlund bermain terlalu jauh dari gawang, maka kualitas terbaiknya akan sulit muncul.
Højlund membutuhkan ruang untuk berlari, tetapi ia juga membutuhkan rekan yang mampu memberikan bola kepadanya di area yang tepat.
De Bruyne Juga Harus Dimaksimalkan
Kehadiran Kevin De Bruyne menjadi salah satu alasan mengapa ekspektasi terhadap Napoli sangat tinggi.
Pemain Belgia tersebut merupakan salah satu gelandang kreatif paling berpengalaman di sepak bola Eropa.
Karena itu, sistem Napoli harus mampu menciptakan situasi agar De Bruyne bisa menerima bola di posisi yang memungkinkan dirinya memberikan dampak.
Jika Napoli bermain terlalu lambat, kreativitas De Bruyne juga berpotensi tidak maksimal.
Adani sendiri menyinggung bahwa kualitas pemain Napoli harus menghasilkan performa berbeda.
Pernyataan itu bukan berarti seluruh tanggung jawab berada di pundak De Bruyne.
Sebaliknya, pemain sekaliber dirinya seharusnya menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan kualitas serangan.
Begitu pula Højlund.
Striker Denmark tersebut perlu mendapatkan dukungan yang lebih baik dari lini tengah dan pemain sayap.
Allegri Punya Waktu untuk Memperbaiki
Kritik Adani memang keras, tetapi musim masih sangat panjang.
Lima pertandingan Serie A belum cukup untuk menentukan bagaimana perjalanan Napoli sepanjang musim.
Allegri juga memiliki sejumlah pemain yang belum sepenuhnya tersedia atau masih dalam proses kembali ke kondisi terbaik.
Goal Italia menyebut kembalinya beberapa pemain seperti Anguissa, Alisson Santos, McTominay, serta perkembangan Neres dapat memberi Allegri lebih banyak pilihan.
Situasi tersebut penting karena fleksibilitas skuad dapat membantu Allegri menemukan formula yang lebih cocok.
Terutama di lini serang.
Napoli juga masih memiliki Lorenzo Lucca yang bisa digunakan sebagai alternatif Højlund.
Namun, Goal Italia menilai Lucca masih berada cukup jauh di belakang Højlund dalam hierarki penyerang Napoli.
Artinya, Allegri tetap sangat bergantung kepada Højlund.
Karena itu, menemukan cara agar sang penyerang lebih terlibat dalam permainan menjadi salah satu pekerjaan penting.
Bukan Sekadar Masalah Striker
Pada akhirnya, perdebatan mengenai Napoli bukan sekadar tentang apakah Højlund mampu mencetak gol.
Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana seluruh tim menciptakan peluang.
Jika Napoli memiliki penguasaan bola tetapi tidak mampu membawa bola ke area berbahaya, striker akan kesulitan.
Jika lini tengah bermain terlalu lambat, penyerang tidak mendapatkan ruang.
Jika pemain sayap tidak mampu masuk ke kotak penalti, Højlund akan menghadapi terlalu banyak pemain bertahan sendirian.
Karena itu, komentar Adani tentang Højlund yang "berada di gurun" dapat dibaca sebagai kritik terhadap keseluruhan sistem Napoli.
Ia melihat seorang penyerang yang terlalu terisolasi.
Dan menurutnya, hal tersebut tidak seharusnya terjadi pada tim dengan kualitas pemain seperti Napoli.
Allegri Menghadapi Tekanan Awal
Allegri tentu sudah sangat berpengalaman menghadapi kritik.
Sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan keseimbangan dan hasil akhir.
Namun, Napoli saat ini membutuhkan lebih dari sekadar kemenangan tipis.
Ekspektasi terhadap klub meningkat setelah mereka finis di posisi kedua musim lalu dan mendatangkan sejumlah pemain berkualitas.
Kehadiran De Bruyne dan Højlund membuat Napoli diharapkan memiliki kekuatan lebih besar di lini serang.
Jika performa tetap lambat dan produksi gol rendah, tekanan terhadap Allegri kemungkinan akan semakin besar.
Namun, penilaian tersebut tetap harus dilihat berdasarkan perkembangan musim, bukan hanya lima pertandingan pertama.
Yang jelas, komentar Adani telah membuka kembali perdebatan mengenai identitas permainan Napoli.
Apakah pendekatan Allegri memang terlalu konservatif?
Ataukah masalah awal musim hanya disebabkan oleh proses adaptasi pemain dan perubahan struktur tim?
Jawabannya akan terlihat dari pertandingan-pertandingan berikutnya.
Napoli Harus Segera Menemukan Jawaban
Satu hal yang sulit dibantah adalah Napoli harus meningkatkan produktivitas.
Tujuh gol dalam lima pertandingan merupakan catatan yang membuat ruang perbaikan terlihat jelas.
Højlund juga membutuhkan lebih banyak dukungan.
De Bruyne perlu lebih sering terlibat dalam penciptaan peluang.
Para pemain sayap harus memberikan suplai yang lebih konsisten.
Dan Allegri harus menemukan keseimbangan antara keamanan pertahanan dengan keberanian menyerang.
Kritik Adani mungkin terasa tajam karena ia menilai Napoli memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada yang diperlihatkan.
Ia melihat klub dengan ambisi besar, sejarah terkini yang kuat, dan pemain berkualitas.
Karena itu, menurutnya, Napoli tidak boleh puas hanya dengan memainkan sepak bola yang berjalan biasa-biasa saja.
Bagi Højlund, tantangannya bahkan lebih spesifik.
Ia harus keluar dari "gurun" yang disebut Adani—bukan dengan bermain sendirian, melainkan dengan bantuan sistem yang membuatnya lebih dekat dengan gawang dan lebih sering menerima bola di posisi berbahaya.
Bagi Allegri, tugasnya adalah menemukan formula tersebut.
Dan bagi Napoli, pertandingan-pertandingan berikutnya akan menjadi kesempatan untuk menjawab kritik yang kini semakin keras.
Sebab, musim baru memang baru berjalan beberapa pekan, tetapi dengan kualitas skuad yang mereka miliki, tuntutan untuk menunjukkan permainan yang lebih meyakinkan sudah mulai muncul.
Komentar Adani menjadi salah satu tanda bahwa kesabaran publik sepak bola Italia terhadap Napoli mulai diuji. Kini jawaban paling kuat tentu bukan datang dari perdebatan di televisi, melainkan dari apa yang dilakukan Allegri dan para pemainnya di lapangan.
