Rentetan kemenangan Arsenal akhirnya terhenti dengan cara yang mengejutkan. Setelah tampil sempurna pada awal musim, The Gunners justru mendapatkan pelajaran keras ketika bertandang ke markas Brighton & Hove Albion. Tim asuhan Mikel Arteta dibuat tak berkutik dan harus pulang membawa kekalahan telak 0-3.
Yang membuat hasil ini semakin mengejutkan bukan hanya skor akhirnya, tetapi bagaimana Arsenal kehilangan kendali pertandingan. Brighton tampil agresif sejak menit pertama, memberikan tekanan tinggi, memenangkan banyak duel, dan memaksa Arsenal melakukan kesalahan ketika membangun serangan dari belakang.
Bahkan sebelum pertandingan berakhir, sejumlah suporter Arsenal terlihat meninggalkan stadion karena frustrasi dengan performa timnya.
Bagi Ezri Konsa, kekalahan tersebut tidak membutuhkan banyak alasan. Bek anyar Arsenal itu mengakui bahwa timnya memang tampil di bawah standar.
“Kami tidak cukup bagus. Kami memiliki standar yang sangat tinggi dan penting bagi kami untuk tidak membiarkan standar itu turun seperti yang terjadi hari ini,” ujar Konsa setelah pertandingan.
Ia bahkan secara khusus menyoroti dua gol pertama Brighton yang menurutnya sebenarnya bisa dicegah. Arsenal memberikan terlalu banyak ruang kepada pemain Brighton untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.
Dan di level Premier League, memberikan waktu dan ruang seperti itu bisa berakibat fatal.
Brighton Menghentikan Start Sempurna Arsenal
Sebelum bertemu Brighton, Arsenal sedang berada dalam momentum yang sangat positif.
The Gunners datang ke Amex Stadium dengan catatan tujuh kemenangan beruntun di semua kompetisi. Mereka juga belum terkalahkan dalam pertandingan Premier League dan hanya kebobolan satu gol di liga sebelum menghadapi Brighton.
Arsenal bahkan datang sebagai juara bertahan Premier League.
Ada ekspektasi besar bahwa tim Arteta mampu melanjutkan awal sempurna mereka.
Namun Brighton memiliki rencana berbeda.
Pada ulang tahun ke-125 klub, Brighton tampil luar biasa di hadapan pendukungnya sendiri. Fabian Hürzeler meminta anak asuhnya bermain agresif dan menekan Arsenal sejak awal.
Strategi tersebut berhasil.
Arsenal memang menguasai 60 persen penguasaan bola, tetapi angka tersebut tidak menggambarkan bagaimana pertandingan berlangsung. Brighton lebih efektif ketika merebut bola dan langsung menyerang ruang yang ditinggalkan Arsenal.
Catatan tembakan juga memperlihatkan perbedaannya. Brighton mencatatkan lima tembakan tepat sasaran dari 12 percobaan, sementara Arsenal hanya menghasilkan dua tembakan tepat sasaran dari total tujuh percobaan.
Artinya, Arsenal lebih banyak memegang bola, tetapi Brighton jauh lebih berbahaya.
Pascal Gross Membuka Pesta
Brighton mulai menunjukkan ancamannya pada menit ke-31.
Pascal Gross menerima ruang di luar kotak penalti dan melepaskan tembakan yang berhasil menaklukkan David Raya.
Gol tersebut menjadi peringatan keras bagi Arsenal.
Namun alih-alih segera memperbaiki situasi, lini belakang Arsenal kembali gagal memberikan tekanan yang cukup.
Hanya beberapa menit kemudian, Brighton menggandakan keunggulan.
Charalampos Kostoulas mencetak gol kedua pada menit ke-45.
Gol tersebut membuat Arsenal masuk ruang ganti dengan ketertinggalan 0-2.
Dua gol pertama sama-sama menunjukkan persoalan yang kemudian diakui Konsa.
Arsenal terlalu lambat menutup ruang.
Para pemain Brighton mendapatkan kesempatan menembak.
Dan mereka memanfaatkannya.
Konsa menyebut dua gol pertama sebagai sesuatu yang “sangat bisa dihindari”. Menurutnya, Arsenal seharusnya memberikan tekanan lebih cepat kepada pemain yang memegang bola.
“Kami mungkin bisa memberikan tekanan lebih besar pada bola untuk menghentikan tembakan. Kami tidak melakukannya,” kata Konsa.
Bagi seorang bek, kesalahan seperti itu tentu sangat mengecewakan.
Apalagi Arsenal sebelumnya dikenal sebagai tim yang memiliki struktur pertahanan sangat kuat.
Arsenal Tidak Mampu Menjawab Pressing Brighton
Masalah Arsenal ternyata tidak hanya berada pada lini belakang.
Brighton juga berhasil membuat permainan Arsenal tidak berkembang.
Tuan rumah menerapkan pressing tinggi dengan pendekatan yang agresif. Para pemain Brighton berusaha menutup opsi umpan Arsenal sejak bola berada di area pertahanan.
Ketika Arsenal mencoba membangun serangan melalui David Raya dan para bek tengah, Brighton langsung memberikan tekanan.
Kondisi ini membuat Arsenal kesulitan menemukan jalur umpan yang nyaman.
Konsa dan Gabriel Magalhães sering menghadapi situasi ketika pilihan operan mereka terbatas.
Declan Rice dan Bruno Guimarães juga mendapatkan tekanan ketat di lini tengah.
Akibatnya, Arsenal kesulitan membawa bola ke wilayah berbahaya.
Analisis pertandingan menunjukkan Brighton menggunakan pola pressing yang cukup jelas: pemain depan menutup jalur umpan, sementara lini tengah bergerak agresif untuk mengganggu Rice dan pemain Arsenal lainnya.
Arsenal sebenarnya memiliki penguasaan bola lebih besar.
Namun possession tanpa progresi menjadi masalah.
Mereka memegang bola, tetapi tidak cukup sering mengancam gawang Bart Verbruggen.
Gol Ketiga Membunuh Pertandingan
Arsenal masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan setelah turun minum.
Namun harapan tersebut praktis berakhir pada menit ke-57.
Brighton mendapatkan sepak pojok.
Pascal Gross mengirim bola ke area berbahaya.
Chema Andrés kemudian memenangkan duel udara dan menyundul bola ke dalam gawang.
3-0.
Stadion Amex Stadium bergemuruh.
Sementara itu, para pemain Arsenal terlihat semakin frustrasi.
Pertandingan yang awalnya diharapkan menjadi lanjutan dari start sempurna berubah menjadi salah satu kekalahan terbesar mereka pada awal musim.
Konsa dan Gabriel kesulitan mengantisipasi pergerakan pemain Brighton.
Dan setelah unggul tiga gol, Brighton tidak perlu mengambil risiko besar.
Mereka dapat lebih banyak bermain dengan kontrol dan menunggu Arsenal membuat kesalahan.
Konsa Akui Arsenal Memang Ceroboh
Setelah pertandingan, Konsa tidak mencoba mencari kambing hitam.
Ia mengakui Arsenal memang tidak cukup bagus.
Menurutnya, pemain dan staf harus mengevaluasi apa yang salah sebelum kembali bertanding setelah jeda internasional.
“Kami harus segera bangkit. Dalam sepak bola, pertandingan datang dengan cepat, tetapi sekarang kami memasuki jeda,” ujar Konsa.
Bek berusia 28 tahun itu juga menegaskan bahwa dirinya memiliki standar pribadi yang tinggi dalam urusan menjaga gawang tetap bersih.
Karena itu, kebobolan tiga gol dalam satu pertandingan membuatnya sangat kecewa.
“Tidak biasa bagi kami kebobolan tiga gol. Saya bangga dengan clean sheet. Kami tidak melakukannya hari ini. Sekarang waktunya pergi, melakukan refleksi, lalu kembali dan tampil lebih baik,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Konsa tidak berusaha menyembunyikan kelemahan Arsenal.
Justru sebaliknya.
Ia mengakui masalah tersebut secara terbuka.
Tidak Ada Alasan
Konsa juga menolak menggunakan berbagai alasan untuk menjelaskan kekalahan Arsenal.
Menurutnya, Arsenal sudah memiliki cukup pengalaman untuk memahami bahwa setiap pertandingan Premier League membutuhkan konsentrasi penuh.
“Tidak ada alasan. Kami memang tidak cukup bagus hari ini. Itu saja,” kata Konsa.
Pernyataan tersebut cukup tegas.
Arsenal sebelumnya menjalani periode positif.
Mereka memenangkan empat pertandingan tandang dalam lima pertandingan awal di semua kompetisi menurut Konsa, tetapi pada akhirnya statistik tersebut tidak berarti ketika mereka tampil buruk di Brighton.
Ia menegaskan bahwa tim harus kembali ke ruang latihan dan mencari solusi.
Bukan mencari alasan.
Kekalahan Terbesar di Awal Musim
Hasil 0-3 ini menjadi salah satu kemunduran terbesar Arsenal pada awal musim.
Sebelum pertandingan, The Gunners terlihat seperti salah satu tim yang paling konsisten di Premier League.
Mereka memenangkan pertandingan demi pertandingan.
Pertahanan mereka juga hanya kebobolan satu gol di liga sebelum menghadapi Brighton.
Namun dalam 90 menit di Amex Stadium, semuanya berubah.
Arsenal kebobolan tiga gol.
Mereka gagal mencetak gol.
Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan musim ini, struktur pertahanan mereka benar-benar terlihat rapuh.
Laporan Goal juga menyoroti bagaimana para pemain Arsenal gagal menutup ruang pada dua gol pertama Brighton. Calafiori dan Gabriel dinilai terlambat menekan pada gol Gross, sedangkan Gabriel dan Konsa tidak cukup cepat bereaksi pada gol Kostoulas.
Tentu saja, kekalahan tersebut tidak berarti seluruh sistem Arsenal tiba-tiba menjadi buruk.
Namun pertandingan ini memberikan gambaran mengenai kelemahan yang bisa dieksploitasi lawan.
Brighton Menang dengan Cara yang Berbeda
Yang menarik, Brighton tidak membutuhkan penguasaan bola dominan untuk menghancurkan Arsenal.
Mereka justru lebih efektif ketika tidak menguasai bola.
Brighton membiarkan Arsenal memainkan bola di area tertentu, kemudian menekan pada saat yang tepat.
Ketika bola berhasil direbut, mereka bergerak cepat.
Kostoulas, Diego Gómez, Maxim De Cuyper, Yasin Ayari, dan Gross terus memberikan tekanan kepada lini belakang Arsenal.
Mereka tidak memberikan kesempatan bagi The Gunners untuk mengatur ritme.
Strategi Hürzeler bekerja dengan sangat baik.
Brighton juga berani bermain satu lawan satu dalam fase pressing.
Para bek mereka tidak ragu maju untuk mempersempit ruang.
Hal tersebut membuat Arsenal kesulitan mencari pemain bebas di antara lini.
Arsenal Kehilangan Kendali
Mikel Arteta tentu akan memiliki banyak pekerjaan rumah setelah pertandingan ini.
Salah satunya adalah bagaimana timnya merespons pressing tinggi.
Arsenal sebenarnya memiliki kualitas untuk menghadapi tekanan.
Namun pada pertandingan kali ini, mereka tidak mampu menunjukkan ketenangan yang biasanya menjadi ciri permainan mereka.
David Raya tidak selalu memiliki pilihan umpan yang aman.
Konsa dan Gabriel juga sering berada dalam tekanan.
Rice dan Guimarães tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk mengatur permainan.
Sementara itu, para pemain depan Arsenal terlalu sering terisolasi.
Bukayo Saka tidak mampu memberikan pengaruh seperti biasanya.
Martin Ødegaard kesulitan menemukan ruang.
Kai Havertz juga tidak mendapatkan banyak kesempatan.
Arteta kemudian melakukan beberapa perubahan.
Mikel Merino dan Martin Zubimendi masuk pada menit ke-60.
Eberechi Eze dan Viktor Gyökeres juga dimainkan pada babak kedua.
Max Dowman kemudian masuk menggantikan Saka.
Namun perubahan tersebut tidak cukup untuk membalikkan keadaan.
Rentetan Kemenangan Berakhir
Dengan kekalahan tersebut, Arsenal gagal meneruskan tujuh kemenangan beruntun di semua kompetisi.
Mereka juga gagal mempertahankan rekor sempurna di Premier League.
Namun secara klasemen, Arsenal masih berada di posisi atas.
Setelah pertandingan, Arsenal memiliki 12 poin dari lima pertandingan dan selisih gol +4, sedangkan Brighton naik ke posisi ketiga dengan 10 poin dari lima pertandingan dan selisih gol +11. Manchester City berada di puncak dengan 12 poin dari empat pertandingan.
Artinya, kekalahan tersebut memang menyakitkan, tetapi belum menghapus seluruh pekerjaan yang sudah dilakukan Arsenal pada awal musim.
Justru jeda internasional memberikan waktu bagi Arteta untuk memperbaiki sejumlah persoalan.
Jeda Internasional Datang pada Waktu yang Tepat
Konsa mengakui jeda internasional bisa menjadi kesempatan bagi Arsenal untuk melakukan evaluasi.
Para pemain memiliki waktu untuk melihat kembali pertandingan.
Mereka dapat menganalisis bagaimana Brighton mengeksploitasi kelemahan mereka.
Dan kemudian kembali dengan pendekatan yang lebih baik.
“Ini waktunya kami pergi dan melakukan refleksi sebagai individu maupun secara kolektif. Ketika kembali, kami harus memastikan kami memperbaiki hal-hal yang tidak kami lakukan dengan benar hari ini,” ujar Konsa.
Pesan tersebut juga menunjukkan bahwa para pemain Arsenal memahami bahwa kekalahan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Satu pertandingan buruk memang dapat terjadi.
Tetapi cara tim merespons setelahnya akan menjadi bagian penting dari perjalanan musim.
Konsa Baru Bergabung, Langsung Menghadapi Ujian Berat
Bagi Konsa sendiri, pertandingan ini menjadi salah satu ujian terbesar sejak bergabung dengan Arsenal.
Bek asal Inggris itu direkrut dari Aston Villa pada musim panas dengan nilai transfer sekitar £50 juta.
Sebelumnya, ia mendapatkan pujian dari Arteta karena kemampuan kepemimpinan dan profesionalismenya.
Arteta bahkan menyebut Konsa memiliki kepribadian yang mampu menyatukan orang-orang di sekitarnya.
Ia langsung mendapatkan peran penting karena Arsenal menghadapi persoalan di lini belakang.
Kehadiran Konsa juga membantu Arteta menghadapi absennya William Saliba.
Namun pertandingan melawan Brighton menunjukkan bahwa bahkan pemain berpengalaman pun bisa kesulitan ketika seluruh struktur tim tidak berjalan.
Konsa tidak berusaha menghindar dari tanggung jawab.
Ia justru menjadi salah satu pemain yang paling terbuka setelah kekalahan.
Brighton Mengirim Peringatan kepada Arsenal
Bagi Brighton, kemenangan 3-0 ini bukan hanya tiga poin.
Mereka berhasil mengalahkan juara bertahan dengan pendekatan yang sangat agresif.
Brighton juga menunjukkan bahwa tim asuhan Hürzeler dapat bersaing dengan lawan yang memiliki kualitas lebih tinggi secara individual.
Kemenangan ini datang hanya beberapa hari setelah mereka mengalahkan Manchester United 3-2 di Carabao Cup.
Artinya, Brighton kini mendapatkan momentum penting.
Setelah mengalahkan dua klub besar dalam waktu singkat, kepercayaan diri mereka tentu meningkat.
Namun Brighton juga harus mempertahankan konsistensi karena musim masih panjang.
Arsenal Harus Segera Bangkit
Kekalahan dari Brighton memberikan pelajaran yang cukup jelas bagi Arsenal.
Mereka tidak boleh memberikan ruang kepada lawan untuk menembak.
Mereka harus lebih cepat dalam melakukan tekanan.
Dan yang paling penting, mereka harus mampu menghadapi pressing agresif tanpa kehilangan struktur.
Konsa sendiri sudah menyampaikan pesan yang cukup sederhana.
Tidak ada alasan.
Tidak ada gunanya menyalahkan siapa pun.
Arsenal memang tidak cukup bagus pada hari itu.
Sekarang mereka harus memperbaikinya.
Bagi Arteta, tantangannya adalah memastikan satu kekalahan tidak berubah menjadi tren.
Sebab setelah start sempurna, lawan-lawan Arsenal tentu akan semakin memperhatikan kelemahan yang terlihat di Amex Stadium.
Brighton sudah menunjukkan caranya.
Tekanan tinggi.
Duel agresif.
Menutup ruang.
Dan memanfaatkan kesalahan sekecil apa pun.
Arsenal kini harus menemukan jawaban.
Kekalahan Boleh Terjadi, Respons yang Menentukan
Sepak bola memang tidak mengenal perjalanan yang selalu sempurna.
Arsenal sudah memenangkan tujuh pertandingan sebelum akhirnya kalah di Brighton.
Mereka tetap memiliki skuad berkualitas dan masih berada di papan atas klasemen.
Tetapi pertandingan ini menjadi pengingat bahwa status juara bertahan tidak menjamin kemenangan.
Setiap pertandingan harus dimainkan.
Setiap ruang harus dijaga.
Dan setiap kesalahan bisa dihukum.
Ezri Konsa memahami hal tersebut.
Karena itu, ia tidak mencoba menyembunyikan kekecewaannya.
Ia mengakui Arsenal ceroboh.
Ia mengakui dua gol pertama sebenarnya bisa dihindari.
Ia mengakui pertahanan mereka tidak berada pada level yang seharusnya.
Dan ia menegaskan tidak ada alasan untuk kekalahan tersebut.
Kini bola berada di tangan Arteta dan para pemain.
Jeda internasional memberi mereka waktu untuk melakukan evaluasi.
Setelah itu, Arsenal akan kembali dengan tugas yang jelas: memperbaiki kesalahan, memulihkan momentum, dan membuktikan bahwa kekalahan 0-3 di Brighton hanyalah satu malam buruk dalam perjalanan panjang mereka.
Karena bagi Konsa, standar Arsenal tidak boleh turun hanya karena satu pertandingan.
Dan jika The Gunners ingin terus bersaing di papan atas, standar tersebut harus kembali terlihat ketika mereka turun ke lapangan berikutnya.
