Jürgen Klopp akhirnya memulai era barunya sebagai pelatih Timnas Jerman dengan cara yang tidak biasa. Pelatih berusia 59 tahun itu tidak hanya membuat keputusan mengejutkan dengan menyusun skuad berisi 44 pemain untuk agenda internasional pertamanya, tetapi juga harus berhadapan dengan persoalan lain sebelum daftar resmi tersebut diumumkan.
Sejumlah nama yang dipilih Klopp sudah lebih dahulu bocor ke media Jerman.
Kondisi tersebut membuat Klopp cukup kesal. Bukan karena dirinya keberatan dengan pemberitaan mengenai pemain yang dipanggil, melainkan karena ia merasa momen penting bagi para pemain yang mendapatkan panggilan perdana menjadi kehilangan sebagian nilai spesialnya ketika keputusan tersebut sudah diketahui publik sebelum pengumuman resmi.
Dalam konferensi pers pertamanya sebagai pelatih Timnas Jerman, Klopp secara terbuka mengkritik kebiasaan media membocorkan informasi mengenai daftar pemain.
Klopp bahkan menggunakan kata yang cukup keras untuk menggambarkan tindakannya tersebut.
“Agak memalukan,” menjadi salah satu gambaran yang disampaikan Klopp ketika membahas kebocoran skuad.
Pelatih yang sebelumnya sukses menangani Borussia Dortmund dan Liverpool tersebut memang dikenal memiliki hubungan yang sangat terbuka dengan media. Namun, dalam kasus ini ia ingin ada batas tertentu, terutama ketika menyangkut pemain yang untuk pertama kalinya mendapatkan kesempatan membela Die Mannschaft.
Menurut Klopp, tidak ada masalah apabila informasi mengenai skuad akhirnya diketahui lebih cepat. Yang membuatnya merasa tidak nyaman adalah ketika media berlomba-lomba menjadi pihak pertama yang mengungkapnya sebelum waktu yang sudah direncanakan.
“Saya sebenarnya sama sekali tidak masalah apakah kalian membocorkannya lebih awal atau apakah informasi itu keluar lebih cepat,” ujar Klopp dalam konferensi pers.
Namun, ia kemudian memberikan sindiran kepada para jurnalis.
“Saya hanya berpikir agak menyedihkan mencari nafkah dengan membocorkan sesuatu lebih awal daripada saat orang benar-benar perlu mengetahuinya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen paling menarik dari konferensi pers Klopp.
Bagi mantan pelatih Liverpool itu, pemanggilan pemain ke tim nasional seharusnya menjadi pengalaman yang sangat istimewa. Terutama bagi pemain yang baru pertama kali menerima panggilan.
Seorang pemain yang sepanjang kariernya bermimpi membela Jerman tentu ingin mengetahui kabar tersebut secara langsung dari federasi atau pelatih.
Karena itu, Klopp tampaknya ingin mengembalikan unsur kejutan dan kebahagiaan tersebut kepada para pemain.
Salah satu pemain yang menjadi contoh adalah Felix Keidel.
Gelandang Elversberg berusia 23 tahun tersebut mendapatkan panggilan mengejutkan ke dalam skuad Klopp. Namun, sebelum pengumuman resmi dilakukan, kabar tersebut sudah beredar di media.
Klopp kemudian berbicara langsung dengan Keidel untuk mengetahui bagaimana reaksinya setelah kabar tersebut bocor.
“Saya berbicara lagi dengan Felix Keidel tadi malam dan bertanya kepadanya seperti apa 16 atau 17 jam terakhir setelah seseorang membocorkan bahwa dia akan masuk skuad,” kata Klopp.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kebocoran bukan sekadar masalah informasi.
Ada sisi manusia yang menurut Klopp perlu diperhatikan.
Para pemain yang dipanggil untuk pertama kali tentu mengalami berbagai emosi. Ada kegembiraan, ketegangan, rasa tidak percaya, bahkan mungkin keinginan untuk segera memberi tahu keluarga.
Ketika informasi tersebut sudah lebih dahulu diketahui publik, proses tersebut menjadi berbeda.
Klopp tampaknya ingin memastikan pemain menjadi pusat dari momen tersebut, bukan media yang berhasil mendapatkan informasi lebih cepat.
Namun, persoalan kebocoran bukan satu-satunya hal menarik dari skuad perdana Klopp.
Pelatih baru Jerman itu juga membuat keputusan yang cukup berani dengan memilih total 44 pemain.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding skuad internasional pada umumnya.
Keputusan tersebut berkaitan dengan jadwal Jerman yang sangat padat.
Die Mannschaft akan menjalani empat pertandingan UEFA Nations League dalam rentang waktu sekitar tiga pekan. Karena itu, Klopp memilih membagi para pemain ke dalam dua kelompok.
Kelompok pertama akan menjalani dua pertandingan awal.
Kai Havertz dan Jamal Musiala termasuk pemain yang direncanakan tampil dalam dua laga pertama, sementara Florian Wirtz akan bergabung untuk rangkaian pertandingan berikutnya.
Dengan jumlah pemain yang begitu besar, Klopp mendapatkan kesempatan untuk melihat sebanyak mungkin opsi sebelum menentukan kerangka utama tim nasional.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari proyek pembangunan kembali Jerman setelah perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 berakhir mengecewakan.
Jerman tersingkir pada babak 32 besar setelah kalah dari Paraguay.
Kegagalan tersebut kemudian berujung pada pergantian pelatih.
Julian Nagelsmann kehilangan pekerjaannya dan Klopp ditunjuk untuk memimpin era baru Die Mannschaft.
Kini Klopp memiliki tugas besar.
Ia bukan hanya harus memperbaiki hasil pertandingan.
Ia juga harus menemukan kembali identitas permainan Jerman.
Karena itu, empat pertandingan Nations League menjadi kesempatan yang sangat penting.
Klopp ingin menggunakan agenda tersebut untuk mengenal sebanyak mungkin pemain.
“Sangat tidak biasa ketika Anda menjalani empat pertandingan dalam dua pekan bersama tim nasional,” jelas Klopp.
“Saya ingin mengenal sebanyak mungkin pemain dalam waktu itu.”
Pernyataan tersebut menjelaskan mengapa ia memilih skuad berisi 44 pemain.
Bagi Klopp, jeda internasional tersebut bukan sekadar rangkaian pertandingan.
Itu adalah kesempatan untuk melakukan evaluasi besar-besaran.
Ia ingin mengetahui siapa pemain yang cocok dengan idenya, siapa yang bisa berkembang, dan siapa yang memiliki karakter yang dibutuhkan untuk membangun kembali Jerman.
Salah satu kejutan terbesar adalah masuknya Felix Keidel.
Pemain Elversberg tersebut belum memiliki pengalaman besar bersama tim nasional senior. Namun, performanya di level klub membuat Klopp dan tim pelatih tertarik memberikan kesempatan.
Selain Keidel, ada pula sejumlah pemain baru lainnya.
Klopp tampaknya tidak ingin hanya mengandalkan nama-nama besar yang sudah lama menjadi bagian dari skuad Jerman.
Ia membuka pintu bagi pemain yang sedang berkembang.
Pendekatan tersebut juga terlihat dari beberapa keputusan lain.
Deniz Undav, misalnya, tidak masuk dalam skuad perdana Klopp.
Padahal penyerang VfB Stuttgart itu menjadi salah satu pemain penting Jerman pada Piala Dunia 2026.
Undav bahkan menjadi salah satu pemain Jerman yang paling produktif pada musim sebelumnya.
Namun, ketidakhadirannya bukan berarti Klopp sudah menutup pintu untuk sang penyerang.
Laporan Bild yang dikutip Goal menyebut Undav masih termasuk dalam rencana Klopp. Ia tidak dipanggil karena kondisi kebugarannya setelah mengalami masalah tendon Achilles yang cukup mengganggu dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan demikian, keputusan Klopp untuk tidak membawa Undav lebih berkaitan dengan kondisi fisik daripada persoalan prinsip.
Hal ini menunjukkan bahwa Klopp ingin mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan tim dan kondisi pemain.
Sementara itu, beberapa pemain Stuttgart lainnya juga tidak masuk dalam daftar perdana tersebut.
Angelo Stiller dan Jamie Leweling, yang sama-sama berada dalam skuad Jerman di Piala Dunia, juga absen.
Sebaliknya, Finn Jeltsch, Maximilian Mittelstädt, Josha Vagnoman, dan Chris Führich masuk dalam pilihan Klopp.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Klopp benar-benar membuka persaingan.
Tidak ada jaminan tempat hanya karena seorang pemain sebelumnya merupakan bagian dari skuad Piala Dunia.
Pelatih baru itu ingin melihat bagaimana setiap pemain menyesuaikan diri dengan sistem dan tuntutan yang akan ia terapkan.
Namun, di balik semua keputusan tersebut, persoalan kebocoran skuad tetap menjadi topik paling menarik dari konferensi pers perdana Klopp.
Apalagi salah satu pemain yang kabarnya bocor adalah Younes Ebnoutalib.
Penyerang Eintracht Frankfurt tersebut bahkan mengumumkan sendiri kabar pemanggilannya melalui sebuah video di media sosial.
Menariknya, Klopp tidak benar-benar marah kepada Ebnoutalib.
Justru sebaliknya, ia melihat sisi positif dari reaksi pemain muda tersebut.
Ebnoutalib sempat meminta maaf kepada Klopp setelah mengumumkan pemanggilan tersebut.
Namun, Klopp mengatakan bahwa sang pemain tidak perlu terlalu khawatir.
Menurut Klopp, Ebnoutalib hanya menunjukkan kegembiraan seorang pemain muda yang baru mendapatkan kesempatan besar.
Klopp bahkan menyebut bahwa Ebnoutalib telah “merusak permainan semua pembocor” karena dirinya sendiri yang mengunggah kabar tersebut.
“Dia mengirim video itu kepada saya, meminta maaf kepada saya,” ujar Klopp.
Klopp kemudian menegaskan bahwa ia justru ingin menjaga antusiasme tersebut.
“Saya melihat seorang anak muda yang sangat gembira. Antusiasme seperti itu ingin saya jaga untuk kita semua,” katanya.
Komentar tersebut menunjukkan bahwa kemarahan Klopp sebenarnya tidak ditujukan kepada para pemain.
Ia justru ingin memastikan pemain tetap dapat menikmati momen penting dalam karier mereka.
Ebnoutalib sendiri mendapatkan perhatian setelah tampil bagus bersama Eintracht Frankfurt.
Klopp menganggapnya sebagai talenta yang menarik dan keputusan untuk memasukkannya ke dalam skuad disebut cukup cepat diambil oleh staf pelatih.
Performa sang penyerang ketika menghadapi Union Berlin juga menjadi salah satu alasan.
Ia mencetak tiga gol dalam pertandingan tersebut.
Bagi Klopp, penampilan seperti itu cukup untuk membuat pemain muda tersebut layak mendapatkan kesempatan.
Hal ini juga menunjukkan pola yang ingin dibangun Klopp.
Ia ingin melihat pemain berdasarkan performa aktual, bukan semata-mata berdasarkan reputasi.
Dengan jumlah 44 pemain, ruang eksperimen memang sangat luas.
Namun, Klopp juga sadar bahwa ia tidak memiliki waktu tak terbatas.
Jerman akan langsung menghadapi lawan berat.
Pertandingan pertama era Klopp adalah menghadapi Belanda pada 24 September.
Setelah itu, Jerman menghadapi Yunani hanya beberapa hari kemudian.
Kemudian kelompok pemain kedua akan mengambil alih untuk pertandingan berikutnya.
Jerman dijadwalkan menghadapi Serbia pada 1 Oktober sebelum kembali melawan Yunani pada 4 Oktober.
Empat pertandingan tersebut akan menjadi semacam laboratorium bagi Klopp.
Ia dapat mencoba pemain berbeda, melihat kombinasi lini tengah, menguji opsi pertahanan, dan mencari formula terbaik di lini depan.
Karena itulah skuad 44 pemain menjadi masuk akal dari sudut pandang eksperimen.
Klopp tidak ingin mengambil keputusan terlalu cepat.
Ia baru mengambil alih jabatan tersebut setelah era Nagelsmann berakhir.
Sekarang ia membutuhkan waktu untuk memahami kondisi sepak bola Jerman secara langsung.
Selama beberapa tahun terakhir, Klopp memang lebih banyak berada di level klub.
Ia menangani Borussia Dortmund dan Liverpool sebelum kemudian bekerja dalam struktur sepak bola Red Bull.
Kini tantangan yang dihadapinya berbeda.
Di level tim nasional, Klopp tidak memiliki waktu latihan sebanyak yang dimiliki pelatih klub.
Ia harus menyampaikan ide dengan cepat.
Ia juga harus membangun hubungan dengan pemain yang hanya ditemuinya dalam periode tertentu.
Karena itu, setiap kesempatan untuk mengamati pemain menjadi sangat penting.
Klopp juga telah meminta agar keluarganya dan lingkungan pribadinya tidak diganggu.
Pendekatan tersebut tampaknya ingin ia terapkan kepada para pemainnya.
Ia ingin menciptakan lingkungan yang lebih tenang sehingga pemain dapat fokus pada tugas di lapangan.
Dalam konteks itulah kritik terhadap kebocoran skuad harus dipahami.
Bukan semata-mata karena Klopp ingin mengontrol informasi.
Ia ingin menjaga momen tertentu agar tetap menjadi milik pemain.
Bagi seorang pemain yang pertama kali dipanggil tim nasional, kabar tersebut mungkin merupakan salah satu hari paling penting dalam kariernya.
Ketika kabar tersebut sudah beredar di media sehari sebelumnya, unsur kejutan tentu berubah.
Klopp menyadari bahwa media memiliki fungsi penting dalam sepak bola.
Ia juga tidak mengatakan bahwa dirinya memiliki masalah dengan informasi yang keluar lebih awal.
Tetapi ia mempertanyakan perlombaan untuk menjadi yang pertama.
Bagi Klopp, tidak semua informasi harus diumumkan sebelum waktunya hanya demi mendapatkan eksklusivitas.
Di sisi lain, dunia sepak bola modern memang membuat kebocoran informasi semakin sulit dihentikan.
Media memiliki sumber masing-masing.
Klub dan federasi memiliki banyak orang yang terlibat dalam proses seleksi.
Pemain juga memiliki agen, keluarga, dan lingkungan pribadi.
Karena itu, informasi dapat berpindah dengan cepat.
Klopp tampaknya harus menerima kenyataan tersebut.
Namun, pernyataannya menunjukkan bahwa ia tetap ingin membuat standar komunikasi yang berbeda di era barunya.
Kini, semua perhatian akan beralih kepada lapangan.
Skuad sudah diumumkan.
Pemain-pemain kejutan sudah diketahui.
Rencana dua kelompok sudah dijelaskan.
Dan Klopp akan segera menjalani pertandingan pertamanya sebagai pelatih Jerman.
Keputusan-keputusan awalnya akan menjadi bahan evaluasi besar.
Apakah pemain muda seperti Felix Keidel dan Younes Ebnoutalib mampu memanfaatkan kesempatan?
Apakah pemain senior seperti Havertz, Musiala dan Wirtz akan menjadi fondasi utama era baru?
Dan apakah pemain yang belum dipanggil, termasuk Undav, masih memiliki peluang untuk kembali?
Semua pertanyaan itu akan terjawab melalui pertandingan.
Untuk sementara, satu pesan Klopp sudah sangat jelas.
Ia ingin membangun kembali Jerman dengan caranya sendiri.
Ia ingin melihat sebanyak mungkin pemain.
Ia ingin memberikan kesempatan kepada talenta baru.
Dan ia ingin menjaga suasana internal tim nasional agar tetap positif.
Namun, pada hari pertama era tersebut, ia justru harus berbicara panjang tentang media yang membocorkan rencananya.
“Memalukan” mungkin menjadi kata paling keras yang keluar dari konferensi pers Klopp.
Tetapi di balik kritik tersebut terdapat sebuah pesan yang lebih besar: bagi Klopp, sepak bola tim nasional bukan hanya tentang daftar nama dan pertandingan.
Ini juga tentang bagaimana pemain mendapatkan kesempatan, bagaimana mereka merasakan kebanggaan mengenakan seragam Jerman, dan bagaimana sebuah generasi baru dibangun.
Kini, setelah semua kebocoran dan kontroversi kecil tersebut berlalu, Klopp akhirnya bisa mengalihkan seluruh perhatiannya kepada pekerjaan utama.
Membangun kembali Timnas Jerman.
