Nama Cesc Fabregas kembali menjadi sorotan besar di sepak bola Italia.

Bukan sebagai seorang pemain seperti ketika ia masih aktif memperkuat Arsenal, Barcelona, dan tim nasional Spanyol, melainkan sebagai seorang pelatih yang mulai menunjukkan bahwa dirinya memiliki masa depan sangat cerah di dunia kepelatihan.

Fabregas resmi dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Serie A musim 2025/26 setelah menjalani musim luar biasa bersama Como.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan besar terhadap perjalanan sang pelatih dalam membangun Como menjadi salah satu kejutan terbesar sepak bola Italia.

Fabregas menerima penghargaan bergengsi tersebut dalam acara Gran Gala del Calcio AIC, seremoni yang memberikan penghormatan kepada para pemain dan pelatih terbaik di Italia.

Namun, penghargaan tersebut bukan datang secara kebetulan.

Ada perjalanan panjang di balik keberhasilan Fabregas.

Ada proses membangun tim.

Ada keberanian mengambil keputusan.

Dan yang paling penting, ada perubahan besar terhadap wajah Como dalam beberapa musim terakhir.

Dari Mantan Gelandang Menjadi Pelatih Berpengaruh

Nama Cesc Fabregas sudah lama dikenal oleh penggemar sepak bola dunia.

Ia pernah menjadi salah satu gelandang terbaik generasinya.

Kariernya dimulai dari akademi Barcelona sebelum kemudian berkembang menjadi bintang besar bersama Arsenal.

Fabregas kemudian kembali ke Barcelona, bermain untuk Chelsea, dan akhirnya mengakhiri karier profesionalnya di Como.

Namun, ketika memasuki fase akhir karier sebagai pemain, Fabregas sudah menunjukkan ketertarikan besar terhadap dunia kepelatihan.

Ia tidak sekadar ingin menjadi pemain sampai pensiun.

Ia mulai mempelajari bagaimana sebuah tim dibangun.

Bagaimana taktik diterapkan.

Bagaimana pemain dikembangkan.

Dan bagaimana seorang pelatih mengelola ruang ganti.

Como akhirnya menjadi tempat di mana perjalanan tersebut benar-benar dimulai.

Awalnya Bukan Pelatih Kepala

Perjalanan Fabregas sebagai pelatih Como juga tidak langsung dimulai sebagai pelatih permanen.

Setelah mengakhiri karier bermainnya bersama klub tersebut pada musim panas 2023, Fabregas sempat mengambil peran sebagai pelatih interim.

Pada periode tersebut, ia ikut membantu Como dalam perjalanan mereka menuju promosi.

Tidak lama kemudian, pada musim panas 2024, Fabregas resmi dipercaya sebagai pelatih kepala.

Keputusan tersebut pada awalnya mengandung risiko.

Fabregas memang memiliki pengalaman bermain yang luar biasa.

Namun, menjadi pemain hebat tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelatih hebat.

Ia harus membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan membaca pertandingan, membangun sistem, mengembangkan pemain, dan menjaga konsistensi tim.

Dan Fabregas perlahan memberikan jawabannya.

Musim Pertama di Serie A Sudah Menjanjikan

Pada musim 2024/25, Como baru kembali ke Serie A.

Ekspektasi terhadap mereka tidak terlalu tinggi.

Sebagai klub yang baru promosi, target utama biasanya adalah bertahan dari ancaman degradasi.

Namun, Fabregas mampu membuat Como tampil lebih berani.

Mereka tidak sekadar bertahan.

Como mencoba bermain dengan identitas yang jelas.

Mereka berusaha menguasai bola.

Membangun serangan dari belakang.

Menekan lawan.

Dan tidak takut menghadapi klub-klub besar.

Hasil akhirnya cukup mengesankan.

Como finis di posisi ke-10.

Bagi klub yang baru promosi, pencapaian tersebut sudah sangat positif.

Namun, ternyata itu baru awal.

Musim 2025/26 Menjadi Ledakan Besar

Pada musim berikutnya, Como berubah dari tim yang sekadar mengejutkan menjadi salah satu kekuatan baru di Serie A.

Fabregas meningkatkan kualitas permainan tim.

Para pemain semakin memahami sistemnya.

Dan Como mulai mendapatkan hasil yang luar biasa.

Mereka mampu bersaing dengan klub-klub yang memiliki sejarah jauh lebih besar.

Inter Milan.

AC Milan.

Juventus.

Napoli.

Roma.

Klub-klub tersebut sudah lama menjadi bagian dari elite Italia.

Namun, Como mulai masuk ke dalam persaingan.

Finis Keempat dan Lolos Liga Champions

Puncak keberhasilan tersebut datang ketika Como mengakhiri musim 2025/26 di posisi keempat Serie A.

Hasil tersebut benar-benar bersejarah.

Como berhasil mendapatkan tiket menuju Liga Champions untuk pertama kalinya.

Bayangkan perjalanan mereka.

Tidak lama sebelumnya, klub ini masih bermain di kasta kedua Italia.

Kemudian mereka kembali ke Serie A.

Pada musim pertama bertahan di papan tengah.

Dan hanya satu musim kemudian, mereka berada di posisi empat besar Italia.

Fabregas menjadi sosok sentral dalam transformasi tersebut.

Bukan Sekadar Hasil, tetapi Identitas

Hal yang membuat Fabregas mendapatkan penghargaan bukan hanya karena posisi akhir Como.

Yang lebih penting adalah cara mereka mencapainya.

Como memiliki identitas permainan yang sangat jelas.

Fabregas ingin timnya bermain sepak bola dengan keberanian.

Ia tidak ingin pemain hanya mengandalkan bola panjang.

Ia ingin mereka berani menguasai bola.

Berani melakukan kombinasi.

Dan berani mengambil risiko.

Pendekatan tersebut membuat Como menjadi salah satu tim yang menarik untuk ditonton di Serie A.

Fabregas Mengandalkan Pemain Muda

Salah satu ciri khas kepelatihan Fabregas adalah keberaniannya memberikan kesempatan kepada pemain muda.

Ia tidak melihat usia sebagai penghalang.

Yang lebih penting adalah kualitas dan kemampuan pemain memahami sistem.

Salah satu contoh paling jelas adalah Nico Paz.

Gelandang serang muda tersebut berkembang sangat pesat di bawah arahan Fabregas.

Pada musim lalu, Paz tampil dalam 40 pertandingan di semua kompetisi.

Ia mencetak 13 gol dan memberikan delapan assist.

Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran Fabregas dalam perkembangan pemain tersebut.

Nico Paz Menjadi Senjata Utama

Fabregas mampu memberikan kebebasan kepada Paz untuk menunjukkan kreativitas.

Ia tidak sekadar meminta Paz bermain sebagai gelandang biasa.

Paz diberikan ruang untuk bergerak.

Mencari celah.

Mendekati kotak penalti.

Dan menjadi bagian penting dari serangan.

Hasilnya terlihat jelas.

Paz berkembang menjadi salah satu pemain paling menarik di Serie A.

Keberhasilan seperti ini menjadi salah satu alasan mengapa Fabregas mendapatkan begitu banyak pujian.

Como Tidak Takut Menghadapi Klub Besar

Musim lalu menunjukkan bahwa Como tidak lagi menjadi klub yang mudah dikalahkan.

Mereka mampu menghadapi klub-klub besar dengan kepercayaan diri.

Fabregas tidak mengubah pendekatan hanya karena lawannya lebih kuat.

Ia tetap meminta para pemain memainkan sepak bola mereka.

Inilah salah satu alasan Como mampu mengumpulkan hasil yang konsisten.

Penghargaan yang Sangat Layak

Pada akhirnya, semua pencapaian tersebut membuat Fabregas mendapatkan penghargaan Pelatih Terbaik Serie A 2025/26.

Penghargaan ini menjadi pengakuan resmi terhadap pekerjaannya.

Ia bukan lagi sekadar mantan pemain besar yang mencoba menjadi pelatih.

Ia mulai dianggap sebagai salah satu pelatih muda paling menarik di Eropa.

Dan usianya masih relatif muda dalam dunia kepelatihan.

Artinya, perjalanan Fabregas kemungkinan baru saja dimulai.

Como Kini Memiliki Mimpi Lebih Besar

Setelah mendapatkan tiket Liga Champions, Como tidak ingin berhenti.

Mereka ingin membuktikan bahwa keberhasilan musim lalu bukan kebetulan.

Mereka ingin menunjukkan bahwa Como benar-benar telah menjadi bagian dari kelompok elite Italia.

Karena itu, aktivitas klub di bursa transfer juga menjadi sangat agresif.

Mereka berusaha memperkuat berbagai posisi.

Fabregas mendapatkan pemain-pemain yang sesuai dengan sistemnya.

Robert Sanchez dan Trevoh Chalobah

Salah satu langkah penting Como adalah mendatangkan Robert Sanchez.

Kiper tersebut memiliki pengalaman bermain di level tertinggi.

Como juga berhasil mendapatkan Trevoh Chalobah.

Keduanya memiliki pengalaman di Premier League dan klub besar.

Kehadiran pemain seperti mereka bisa memberikan tambahan kualitas sekaligus pengalaman bagi Como.

Terutama ketika klub harus menghadapi kompetisi Eropa untuk pertama kalinya.

Liga Champions Menjadi Ujian Terbesar

Lolos ke Liga Champions adalah pencapaian luar biasa.

Namun, bermain di Liga Champions adalah tantangan yang berbeda.

Como akan menghadapi beberapa klub besar Eropa.

Mereka dijadwalkan menghadapi Paris Saint-Germain, Manchester United, RB Leipzig, dan AEK Athena di kandang.

Sementara pertandingan tandang akan membawa mereka menghadapi Barcelona, Real Betis, Feyenoord, dan Lens.

Daftar tersebut menunjukkan betapa berat perjalanan Como.

Bertemu Barcelona Akan Sangat Istimewa

Salah satu pertandingan paling menarik tentu saja ketika Como menghadapi Barcelona.

Fabregas memiliki hubungan emosional dengan klub Catalan tersebut.

Ia tumbuh dari akademi Barcelona.

Ia kemudian menjadi bagian dari tim utama.

Kini, sebagai pelatih Como, ia akan kembali menghadapi klub masa lalunya.

Namun kali ini bukan sebagai pemain.

Ia akan berdiri di pinggir lapangan dan mencoba mengalahkan Barcelona dengan taktiknya.

Pertandingan tersebut berpotensi menjadi salah satu momen paling emosional dalam karier kepelatihannya.

Manchester United Juga Menunggu

Como juga akan menghadapi Manchester United.

Klub Inggris tersebut memiliki sejarah panjang.

Fabregas tentu sudah sangat mengenal atmosfer Premier League.

Ia pernah bermain di sana selama bertahun-tahun.

Sekarang ia akan menghadapi salah satu klub terbesar Inggris dari sudut pandang yang berbeda.

Pertandingan tersebut juga bisa menjadi ujian besar bagi sistem Como.

Tantangan Fabregas Semakin Besar

Jika musim lalu Fabregas harus membawa Como menembus empat besar Serie A, sekarang tugasnya lebih sulit.

Ia harus mempertahankan performa di liga.

Di saat yang sama, ia harus menghadapi jadwal Liga Champions.

Jumlah pertandingan akan meningkat.

Perjalanan juga akan semakin panjang.

Pemain akan mengalami kelelahan.

Rotasi skuad menjadi sangat penting.

Dan Fabregas harus menunjukkan kemampuan manajemen timnya.

Awal Musim Baru Menunjukkan Mereka Belum Berhenti

Menariknya, Como sudah menunjukkan tanda-tanda positif pada awal musim 2026/27.

Pada pertandingan pembuka, mereka bermain imbang 1-1 melawan Udinese.

Kemudian mereka membuat kejutan besar dengan mengalahkan Napoli 2-1 di Stadion Diego Armando Maradona.

Kemenangan tersebut semakin memperkuat kesan bahwa Como bukan lagi tim kejutan sesaat.

Mereka benar-benar berkembang menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan.

Reuters juga mencatat kemenangan Como atas Napoli sebagai salah satu hasil mengejutkan pada pekan kedua Serie A.

Fabregas Mulai Mengubah Persepsi

Ketika pertama kali menjadi pelatih, Fabregas mungkin dianggap masih terlalu muda.

Sebagian orang bahkan mungkin mempertanyakan apakah pengalaman sebagai pemain cukup untuk menjadi pelatih.

Sekarang pertanyaan tersebut perlahan menghilang.

Fabregas sudah mempunyai trofi individu.

Ia sudah membawa Como ke Liga Champions.

Ia sudah mengembangkan pemain muda.

Dan ia sudah menunjukkan identitas permainan.

Semua itu menjadi bukti bahwa ia memiliki kapasitas sebagai pelatih.

Filosofi yang Terinspirasi dari Karier Bermain

Pengalaman Fabregas sebagai gelandang tentu memengaruhi cara ia melihat sepak bola.

Ia memahami pentingnya ruang.

Ia memahami pergerakan bola.

Ia tahu bagaimana seorang gelandang menciptakan peluang.

Dan pengetahuan tersebut ia bawa ke Como.

Timnya bermain dengan pendekatan yang sangat teknis.

Penguasaan bola menjadi salah satu elemen penting.

Namun, bukan penguasaan bola kosong.

Fabregas ingin bola digunakan untuk menciptakan peluang.

Tidak Sekadar Meniru Pep Guardiola

Fabregas pernah bekerja bersama pelatih-pelatih besar.

Ia memahami berbagai filosofi.

Namun, sebagai pelatih, ia mulai membangun identitasnya sendiri.

Ia tidak sekadar menjadi versi lain dari pelatih yang pernah menanganinya.

Ia menggabungkan pengalaman bermain dengan pemahamannya sendiri.

Hasilnya adalah gaya Como yang mulai dikenal.

Como Menjadi Proyek Menarik

Keberhasilan Fabregas juga membuat Como menjadi salah satu proyek paling menarik di Eropa.

Klub tersebut memiliki ambisi besar.

Mereka tidak ingin hanya bertahan di Serie A.

Mereka ingin berkembang menjadi klub papan atas.

Fabregas menjadi bagian utama dari proyek tersebut.

Dan sejauh ini, semuanya berjalan sangat baik.

Penghargaan Ini Bisa Membuka Pintu Lebih Besar

Menjadi Pelatih Terbaik Serie A tentu akan meningkatkan reputasi Fabregas.

Klub-klub besar Eropa pasti akan mulai memperhatikannya.

Jika Como terus berkembang, bukan tidak mungkin suatu hari Fabregas mendapatkan tawaran dari klub yang lebih besar.

Namun, untuk saat ini, ia tampaknya masih fokus pada proyek di Como.

Tantangan untuk Mempertahankan Standar

Justru setelah mendapatkan penghargaan, tantangan Fabregas semakin besar.

Musim berikutnya selalu lebih sulit.

Ketika tim tidak lagi dianggap sebagai kejutan, lawan akan mempersiapkan strategi khusus.

Mereka akan mempelajari Como.

Mereka akan mencoba menghentikan pemain-pemain penting.

Fabregas harus menemukan cara baru agar timnya tetap berkembang.

Como Harus Membuktikan Konsistensi

Satu musim luar biasa bisa dianggap sebagai kejutan.

Dua atau tiga musim konsisten akan membuat orang mulai menganggapnya sebagai kekuatan baru.

Itulah tantangan Como.

Mereka harus membuktikan bahwa finis keempat bukan sebuah kebetulan.

Mereka harus terus bersaing di papan atas.

Dan mereka harus mampu tampil kompetitif di Liga Champions.

Fabregas Sekarang Punya Tanggung Jawab Besar

Tidak ada lagi status sebagai pelatih muda yang sedang belajar.

Fabregas sekarang sudah mendapatkan pengakuan resmi.

Ia adalah Pelatih Terbaik Serie A.

Dengan penghargaan tersebut, ekspektasi terhadapnya otomatis meningkat.

Namun, justru itulah yang diinginkan oleh seorang pelatih ambisius.

Fabregas ingin membawa Como lebih jauh.

Dari Serie B ke Liga Champions

Perjalanan Como dalam beberapa tahun terakhir benar-benar luar biasa.

Dari Serie B.

Kemudian promosi.

Finis di papan tengah Serie A.

Lalu menembus empat besar.

Dan sekarang bermain di Liga Champions.

Fabregas berada di pusat semua perubahan tersebut.

Ia menjadi salah satu arsitek utama kebangkitan Como.

Bukan Lagi Sekadar Cerita Underdog

Como sekarang tidak bisa lagi disebut sebagai underdog biasa.

Mereka sudah memiliki kualitas.

Mereka sudah memiliki pengalaman.

Mereka juga memiliki pelatih yang mendapatkan penghargaan tertinggi di Italia.

Musim baru akan menunjukkan apakah mereka mampu mempertahankan standar tersebut.

Ambisi Fabregas Tidak Berhenti

Fabregas tentu tidak ingin penghargaan ini menjadi puncak kariernya.

Justru penghargaan tersebut bisa menjadi awal.

Ia masih sangat muda sebagai pelatih.

Masih banyak hal yang bisa dipelajari.

Masih banyak trofi yang bisa dimenangkan.

Dan masih banyak klub yang mungkin ingin menggunakan jasanya.

Namun, untuk sekarang, fokusnya adalah Como.

Kesimpulan

Cesc Fabregas telah mencatat pencapaian besar dalam perjalanan barunya sebagai pelatih.

Mantan maestro Arsenal, Barcelona, Chelsea, dan tim nasional Spanyol tersebut resmi dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Serie A musim 2025/26 setelah membawa Como menjalani musim yang luar biasa.

Penghargaan tersebut diberikan setelah Como berhasil finis di posisi keempat Serie A dan memastikan tempat di Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Yang membuat pencapaian Fabregas semakin istimewa adalah perjalanan yang harus dilalui.

Ia tidak mengambil alih klub yang sudah menjadi kekuatan besar Italia.

Ia membangun semuanya secara bertahap.

Dari menjadi pelatih interim setelah pensiun sebagai pemain, Fabregas kemudian dipercaya sebagai pelatih kepala pada 2024.

Musim pertamanya di Serie A menghasilkan posisi ke-10.

Namun pada musim berikutnya, ia membawa Como melompat jauh ke posisi keempat.

Fabregas juga berhasil mengembangkan pemain muda seperti Nico Paz menjadi salah satu pemain penting dalam sistemnya.

Sekarang Como menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

Mereka harus bermain di Serie A sekaligus menjalani Liga Champions.

Lawan-lawan besar sudah menunggu.

Paris Saint-Germain.

Manchester United.

RB Leipzig.

Barcelona.

Dan sejumlah klub Eropa lainnya.

Namun, awal musim 2026/27 memberikan alasan bagi para pendukung Como untuk optimistis.

Setelah bermain imbang melawan Udinese pada laga pembuka, Como kemudian mengalahkan Napoli 2-1 di markas lawan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa Como masih memiliki mentalitas untuk menghadapi klub-klub besar.

Dan di tengah semua itu berdiri seorang mantan gelandang yang kini mulai membuktikan dirinya sebagai pelatih.

Cesc Fabregas bukan lagi sekadar mantan pemain hebat yang mencoba dunia kepelatihan.

Ia kini adalah pelatih terbaik Serie A.

Dan jika perkembangan Como terus berlanjut, penghargaan tersebut mungkin hanyalah awal dari perjalanan panjang Fabregas menuju level tertinggi dunia kepelatihan.