Kepergian Diogo Jota meninggalkan luka yang jauh lebih dalam bagi Liverpool daripada yang terlihat dari luar. Setahun setelah tragedi tersebut, Andy Robertson akhirnya mengungkap bagaimana suasana sebenarnya di dalam ruang ganti The Reds ketika para pemain harus mencoba melanjutkan kehidupan dan karier setelah kehilangan salah satu sahabat terdekat mereka.
Pengakuan Robertson membuat gambaran mengenai periode sulit Liverpool menjadi jauh lebih jelas.
Mantan bek Liverpool yang kini memperkuat Tottenham Hotspur itu mengatakan bahwa skuad benar-benar kehilangan kepedulian terhadap sepak bola setelah Jota meninggal dunia secara tragis pada 2025. Bagi para pemain, pertandingan, latihan, taktik, bahkan target mempertahankan gelar Premier League untuk sementara terasa tidak lagi menjadi hal terpenting.
Mereka baru saja kehilangan seorang teman.
Bukan sekadar rekan satu tim.
Bukan sekadar seorang pemain.
Tetapi seseorang yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.
“Sulit untuk menggambarkan atau membicarakannya. Apa yang kami lalui sangat mengerikan,” ujar Robertson dalam wawancara bersama The Overlap, seperti dikutip Goal.
Pernyataan tersebut memberikan gambaran betapa berat kondisi psikologis ruang ganti Liverpool setelah tragedi yang mengguncang klub itu.
Liverpool Sedang Berada di Puncak Sebelum Segalanya Berubah
Yang membuat tragedi tersebut terasa semakin berat adalah waktu kejadiannya.
Liverpool baru saja menjalani musim yang sangat sukses. Mereka berhasil memenangkan Premier League 2024/25 dan merayakan gelar liga bersama para pendukung di Anfield.
Para pemain seharusnya memasuki periode berikutnya dengan penuh optimisme.
Mereka sedang berada di puncak.
Namun tidak lama setelah perayaan tersebut, suasana berubah total.
Kabar meninggalnya Jota datang secara mendadak dan mengguncang seluruh klub. Pemain asal Portugal tersebut meninggal dunia bersama adiknya, André Silva, dalam kecelakaan lalu lintas pada Juli 2025.
Jota bukan hanya pemain penting di dalam skuad Liverpool. Ia juga merupakan sosok yang memiliki hubungan dekat dengan banyak pemain.
Robertson termasuk salah satunya.
Karena itu, masa persiapan musim baru yang seharusnya diisi dengan latihan, pertandingan pramusim dan persiapan mempertahankan gelar justru berubah menjadi masa berkabung.
Liverpool harus belajar bagaimana kembali bermain sepak bola sambil menghadapi kehilangan besar.
“Kami Tidak Peduli dengan Sepak Bola”
Salah satu kalimat Robertson yang paling menggambarkan kondisi tersebut adalah pengakuannya bahwa para pemain Liverpool pada saat itu benar-benar tidak peduli dengan sepak bola.
“Yang sebenarnya terjadi adalah kami tidak peduli dengan sepak bola karena kami baru saja kehilangan salah satu sahabat terbaik kami di ruang ganti,” ujar Robertson.
Kalimat tersebut bukan berarti para pemain secara permanen kehilangan kecintaan terhadap olahraga yang mereka jalani.
Robertson sedang menggambarkan kondisi emosional mereka pada saat tragedi tersebut terjadi.
Bagi pemain profesional, sepak bola biasanya menjadi pusat kehidupan. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu bersama rekan setim, berlatih hampir setiap hari, melakukan perjalanan, makan bersama dan menghadapi pertandingan secara kolektif.
Karena itu, ketika seorang anggota kelompok tersebut meninggal secara tiba-tiba, efeknya tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kehidupan sepak bola mereka.
Bagaimana mungkin seseorang langsung kembali memikirkan pressing, formasi atau strategi ketika sahabatnya baru saja meninggal?
Bagi Robertson dan rekan-rekannya, prioritas mereka berubah.
Sepak bola untuk sementara berada di belakang rasa kehilangan.
Bahkan Pendatang Baru Ikut Merasakan Dampaknya
Salah satu bagian menarik dari pengakuan Robertson adalah bagaimana tragedi tersebut tidak hanya berdampak kepada pemain-pemain yang sudah lama mengenal Jota.
Pemain baru juga ikut masuk ke dalam situasi emosional yang sangat sulit.
Liverpool merekrut sejumlah pemain besar pada periode tersebut, termasuk Florian Wirtz dan Alexander Isak. Mereka datang dengan ekspektasi tinggi dan tentu berharap bisa segera beradaptasi dengan tim baru.
Namun ketika masuk ke ruang ganti Liverpool, mereka menemukan suasana yang sangat berbeda dari yang mungkin mereka bayangkan.
Robertson mengatakan para pemain baru datang ke klub yang sedang patah hati.
“Para pemain baru datang ke klub yang sedang patah hati. Saya sangat merasa kasihan kepada mereka karena mereka direkrut dengan harga mahal, dan mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar beradaptasi,” ungkap Robertson.
Situasi tersebut menciptakan tantangan tersendiri.
Seorang pemain baru biasanya membutuhkan waktu untuk mengenal rekan setim, memahami gaya bermain, mempelajari kebiasaan ruang ganti dan membangun hubungan dengan lingkungan baru.
Namun dalam kondisi Liverpool saat itu, hampir seluruh perhatian para pemain lama masih tertuju pada rasa kehilangan.
Mereka sedang mencoba memproses tragedi.
Pemain baru pun harus menyesuaikan diri dengan situasi yang sangat tidak biasa.
Robertson Mengalami Kontras yang Sangat Menyakitkan
Pengalaman pribadi Robertson membuat tragedi tersebut terasa semakin berat.
Ia mengungkap bahwa hanya satu pekan sebelum Jota meninggal, dirinya menghadiri pernikahan sang pemain.
Robertson menyaksikan Jota dalam salah satu momen paling bahagia dalam hidupnya.
Kemudian hanya beberapa hari kemudian, semuanya berubah.
“Sepekan sebelum dia meninggal, saya berada di pernikahannya,” kata Robertson. “Itu salah satu hal tersulit yang akan pernah Anda lalui, melihat dia pada hari paling bahagia dalam hidupnya lalu pada pekan berikutnya, Anda melihat keluarganya hancur berantakan.”
Kontras tersebut menjadi salah satu alasan mengapa proses menerima kenyataan terasa sangat sulit.
Seseorang yang baru saja dilihat tertawa dan merayakan kebahagiaan bersama keluarga tiba-tiba tidak lagi ada.
Bagi rekan-rekannya, Jota bukan hanya nama di daftar pemain Liverpool.
Ia adalah seseorang yang mereka kenal secara pribadi.
Mereka mengetahui keluarganya.
Mereka berbagi perjalanan karier dengannya.
Mereka memenangkan pertandingan dan trofi bersamanya.
Karena itu, kehilangan tersebut tidak bisa diperlakukan seperti kehilangan seorang rekan kerja biasa.
Arne Slot Memberikan Ruang bagi Para Pemain
Dalam situasi seperti itu, Liverpool juga harus mengambil keputusan mengenai bagaimana menjalankan persiapan musim.
Menurut laporan Goal, Arne Slot memberikan ruang kepada para pemain yang sedang berduka dan pada dasarnya tidak memaksakan pola latihan pramusim seperti biasanya. Para pemain diberikan kesempatan untuk tidak mengikuti sesi tertentu ketika mereka membutuhkan waktu.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa klub memahami situasi yang sedang dihadapi para pemain.
Dalam kondisi normal, pramusim merupakan fase penting.
Pelatih ingin pemain berada dalam kondisi fisik terbaik.
Taktik harus dipersiapkan.
Pemain baru harus diintegrasikan.
Namun Liverpool berada dalam kondisi yang tidak normal.
Ada hal yang jauh lebih besar daripada sepak bola.
Para pemain membutuhkan waktu untuk berduka.
Dan menurut Robertson, pendekatan penuh empati dari Slot menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Dukungan Psikologis Juga Diberikan
Liverpool kemudian menggunakan sistem dukungan internal untuk membantu para pemain menghadapi masa sulit tersebut.
Robertson menyebut psikolog klub terlibat dalam proses pemulihan emosional para pemain.
Salah satu bentuknya adalah diskusi dalam kelompok kecil dengan suasana yang lebih santai, termasuk berbicara sambil minum kopi.
Tujuannya bukan memaksa para pemain segera melupakan Jota.
Sebaliknya, mereka diberikan ruang untuk membicarakan apa yang dirasakan dan bagaimana mereka ingin mengenang sahabat mereka.
Dalam situasi seperti itu, berbicara bersama rekan yang mengalami kehilangan serupa bisa menjadi sesuatu yang penting.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar perlu menjelaskan mengapa dirinya merasa sedih.
Semua orang berada dalam situasi yang sama.
Mereka kehilangan Jota.
“Apa Gunanya?”
Robertson juga mengakui bahwa kehilangan tersebut memengaruhi motivasi para pemain.
Ketika melihat apa yang dialami keluarga Jota, sejumlah pemain mulai mempertanyakan kembali pentingnya sepak bola.
Robertson mengatakan bahwa pada titik tertentu mereka mungkin berpikir, “apa gunanya?”
Pertanyaan tersebut bukan mengenai apakah sepak bola memiliki arti secara keseluruhan.
Namun dalam situasi kehilangan seorang teman, kemenangan dalam pertandingan bisa terasa sangat kecil dibandingkan dengan apa yang sedang dialami keluarga korban.
Robertson mengatakan para pemain kehilangan sebagian determinasi mereka pada periode tersebut.
Hal tersebut membantu menjelaskan mengapa Liverpool mengalami kesulitan mempertahankan performa setelah memenangkan Premier League.
Namun penting untuk membedakan antara pengakuan Robertson mengenai kondisi ruang ganti dan kesimpulan sebab-akibat yang lebih luas mengenai hasil musim.
Robertson berbicara dari pengalaman pribadinya sebagai bagian dari skuad.
Ia menggambarkan bahwa tragedi tersebut membuat musim berikutnya menjadi sangat berat secara emosional.
Liverpool Kemudian Harus Tetap Bermain
Pada akhirnya, meskipun sepak bola untuk sementara terasa tidak penting, Liverpool tetap memiliki pertandingan yang harus dijalani.
Kompetisi tidak berhenti.
Premier League tetap berjalan.
Lawan tetap datang.
Para pemain tetap harus masuk lapangan.
Robertson mengatakan mereka tidak memiliki pilihan lain.
“Kami berhasil melewatinya bersama-sama. Kami hanya mengatakan bahwa kami akan selalu mengingatnya. Namun pada akhirnya kami harus bermain sepak bola. Kami tidak punya pilihan soal itu,” ujarnya.
Kalimat tersebut menggambarkan dilema yang dihadapi para pemain.
Mereka masih berduka, tetapi profesi mereka mengharuskan mereka tampil.
Mereka harus berlatih meskipun pikiran mungkin tidak sepenuhnya berada di lapangan.
Mereka harus bertanding meskipun hati masih tertinggal pada orang yang telah pergi.
Dan mereka harus mencoba menang meskipun kemenangan tersebut tidak mampu mengembalikan sahabat mereka.
Musim Liverpool Kemudian Berjalan Sulit
Liverpool akhirnya tidak mampu mempertahankan gelar Premier League.
Mereka mengakhiri musim 2025/26 di posisi kelima dengan 60 poin, setelah sebelumnya menjadi juara. Arsenal menjadi juara pada musim tersebut.
Namun posisi kelima tersebut tentu tidak bisa secara sederhana dikaitkan hanya dengan satu faktor.
Performa sebuah tim dipengaruhi banyak hal: pergantian pemain, strategi, cedera, jadwal, kualitas lawan dan berbagai dinamika sepanjang musim.
Apa yang disampaikan Robertson adalah bahwa tragedi Jota menjadi salah satu pengalaman emosional yang sangat berat bagi skuad.
Ia menggambarkan bagaimana kehilangan tersebut memengaruhi suasana ruang ganti dan semangat kompetitif para pemain.
Dengan kata lain, angka di klasemen hanya menceritakan sebagian kecil dari apa yang terjadi.
Di balik hasil pertandingan terdapat manusia yang sedang menghadapi kehilangan.
Bagi Jota, Liverpool Adalah Bagian dari Hidupnya
Jota bergabung dengan Liverpool pada 2020 setelah pindah dari Wolverhampton Wanderers.
Selama berada di Anfield, ia berkembang menjadi salah satu penyerang penting klub.
Ia memenangkan Premier League, Piala FA, Piala Liga dan berbagai trofi lainnya bersama Liverpool.
Namun bagi Robertson, kenangan mengenai Jota tidak hanya berkaitan dengan trofi.
Yang paling diingat adalah hubungan antarmanusia.
Perjalanan bersama.
Candaan di ruang ganti.
Momen latihan.
Perjalanan tandang.
Pertandingan besar.
Dan kehidupan di luar lapangan.
Itulah sebabnya kematian Jota memberikan dampak yang begitu besar.
Ia telah menjadi bagian dari kehidupan banyak pemain.
Robertson Kini Melanjutkan Karier di Tottenham
Waktu akhirnya membuat para pemain Liverpool mulai mampu melanjutkan kehidupan.
Robertson sendiri kini sudah meninggalkan Anfield.
Ia bergabung dengan Tottenham Hotspur dan memulai babak baru dalam kariernya.
Namun awal perjalanannya bersama Spurs juga tidak mudah.
Menurut laporan Goal, Tottenham hanya mengumpulkan dua poin dari lima pertandingan pertama musim 2026/27 pada saat artikel tersebut diterbitkan.
Artinya, Robertson kembali menghadapi tantangan sepak bola yang berbeda.
Tetapi pengalaman bersama Liverpool setelah kepergian Jota kemungkinan akan selalu menjadi salah satu bagian paling emosional dalam perjalanan kariernya.
Ia telah mengalami salah satu bentuk kehilangan paling berat bersama rekan-rekannya.
Dan kini ia membawa kenangan tersebut ke fase berikutnya dalam hidupnya.
Liverpool Memulai Babak Baru
Sementara Robertson telah pindah, Liverpool juga mencoba membangun kembali tim.
Skuad The Reds saat ini mengalami perubahan besar dibandingkan kelompok pemain yang berada di ruang ganti ketika Jota meninggal.
Beberapa pemain baru datang.
Sejumlah pemain lama pergi.
Struktur tim berubah.
Namun kenangan mengenai Jota tetap menjadi bagian dari sejarah klub.
Bagi Liverpool, kehilangan tersebut tidak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Yang berubah hanyalah cara mereka mengenangnya.
Para pemain harus belajar melanjutkan hidup tanpa melupakan sahabat yang telah pergi.
Dan seperti yang dikatakan Robertson, mereka akhirnya harus kembali bermain sepak bola.
Bukan karena mereka sudah melupakan Jota.
Justru karena mereka ingin tetap mengenangnya sebagai bagian dari perjalanan bersama.
Luka yang Tidak Terlihat di Balik Sebuah Musim
Pengakuan Robertson memberikan perspektif berbeda mengenai sepak bola profesional.
Dari luar, seorang pemain hanya terlihat sebagai atlet yang harus tampil setiap pekan.
Ketika tim kalah, publik bisa mempertanyakan taktik.
Ketika pemain gagal mencetak gol, kritik berdatangan.
Ketika performa menurun, muncul pertanyaan mengenai profesionalisme.
Namun ada kalanya masalah yang dihadapi sebuah tim jauh lebih besar daripada sepak bola itu sendiri.
Liverpool berada dalam situasi tersebut setelah kehilangan Diogo Jota.
Mereka bukan hanya kehilangan seorang pemain.
Mereka kehilangan teman.
Dan mereka harus menjalani musim ketika luka tersebut masih sangat segar.
Karena itu, kalimat Robertson bahwa “kami tidak peduli dengan sepak bola” mungkin menjadi salah satu cara paling jujur untuk menggambarkan situasi tersebut.
Bukan karena mereka berhenti mencintai Liverpool.
Bukan karena mereka tidak lagi menghormati profesi.
Tetapi karena pada saat itu, ada sesuatu yang jauh lebih penting.
Ada seorang sahabat yang telah pergi.
Ada keluarga yang sedang berduka.
Ada anak-anak Jota yang harus tumbuh tanpa ayah mereka.
Dan ada sekelompok pemain yang harus mencoba menerima kenyataan bahwa seseorang yang baru beberapa hari sebelumnya masih bersama mereka kini sudah tidak akan pernah kembali.
Pada akhirnya, Robertson dan rekan-rekannya memilih untuk terus berjalan.
Mereka mengenang Jota.
Mereka saling mendukung.
Mereka mencoba kembali ke lapangan.
Dan meskipun sepak bola akhirnya kembali menjadi pekerjaan mereka, pengalaman tersebut meninggalkan sesuatu yang tidak akan hilang dari ruang ganti Liverpool.
Sebuah kenangan tentang seorang rekan yang mereka cintai sebagai teman.
Sebuah luka yang mungkin tidak selalu terlihat ketika pertandingan berlangsung.
Dan sebuah pengingat bahwa di balik gemerlap Premier League, trofi, uang, sorotan dan tekanan, para pemain tetap manusia yang bisa kehilangan orang yang mereka sayangi.
Bagi Robertson, musim itu mungkin akan selalu dikenang sebagai salah satu periode paling berat dalam kariernya.
Bukan karena hasil pertandingan.
Bukan karena posisi klasemen.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, sepak bola benar-benar terasa tidak penting dibandingkan kehilangan seorang sahabat.
