Ada pengakuan menarik dari gelandang Atletico Madrid, Alex Baena, yang kembali membuat nama Lamine Yamal menjadi pusat perhatian. Pemain asal Spanyol tersebut secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya memiliki alasan khusus ketika menyaksikan pertandingan Barcelona.

Jika dahulu Baena menyalakan televisi untuk melihat Lionel Messi beraksi, kini kebiasaan tersebut berubah. Pemain yang membuatnya tertarik menyaksikan pertandingan Barcelona adalah Lamine Yamal.

Bahkan, pengakuan Baena tidak berhenti pada sekadar pujian terhadap kemampuan pemain muda tersebut. Ia menyebut Yamal sebagai pemain terbaik di dunia menurut pandangan pribadinya. Baena juga memasukkan nama Yamal dalam tiga besar pilihannya untuk Ballon d'Or bersama dua nama besar lainnya, yakni Rodri dan Messi.

Pernyataan tersebut menjadi semakin menarik karena Baena bukanlah pemain Barcelona. Ia saat ini memperkuat Atletico Madrid, salah satu klub besar yang berada di tengah persaingan sengit sepak bola Spanyol.

Namun, status tersebut tidak membuat Baena ragu memberikan apresiasi kepada Yamal.

Bagi Baena, Yamal memiliki kualitas yang sangat berbeda. Ada sesuatu dalam permainan winger Barcelona tersebut yang membuatnya rela menonton pertandingan hanya untuk melihat sang pemain berada di lapangan.

“Saya sangat jelas soal itu. Tiga terbaik menurut saya adalah Lamine, Rodri, dan Messi,” ujar Baena ketika membicarakan pilihannya mengenai pemain terbaik.

Ketika kemudian ditanya lebih jauh mengenai Yamal, Baena memberikan pernyataan yang jauh lebih besar.

“Pada akhirnya, bagi saya, Lamine adalah pemain terbaik di dunia,” tegasnya.

Pujian tersebut bukan muncul hanya karena Baena melihat Yamal mencetak gol atau memberikan assist dalam pertandingan. Ia mengaku telah melihat kemampuan Yamal dari jarak dekat, terutama ketika keduanya berada dalam lingkungan tim nasional Spanyol.

Menurut Baena, apa yang dilakukan Yamal dalam sesi latihan bahkan sulit ditemukan pada pemain profesional lainnya.

“Saya melihat Lamine dalam sesi latihan tahun ini. Tak satu pun rekan kami melakukan apa yang dia lakukan,” ungkap Baena.

Bagi seorang pemain profesional, komentar seperti itu memiliki bobot tersendiri. Baena bukan hanya penonton yang melihat aksi Yamal dari layar televisi. Ia juga berada di lingkungan sepak bola profesional dan mengetahui betapa sulitnya mencapai level teknik tertentu.

Karena itulah ia merasa Yamal memiliki sesuatu yang sangat istimewa.

Baena bahkan membandingkan daya tarik Yamal dengan Lionel Messi.

Ia mengatakan hanya ada sedikit pemain yang mampu membuatnya menonton pertandingan semata-mata karena ingin menyaksikan mereka bermain. Messi merupakan salah satu pemain yang pernah memberikan efek tersebut kepadanya.

Kini, Yamal menjadi pemain berikutnya.

“Dia adalah salah satu dari sedikit pemain yang membuat saya menonton pertandingan hanya untuk melihatnya. Itu hanya pernah terjadi pada saya dengan Messi,” kata Baena.

Kalimat tersebut menjadi bagian paling menarik dari pengakuannya.

Pasalnya, Messi selama bertahun-tahun dikenal sebagai pemain yang mampu membuat jutaan orang mengikuti pertandingan Barcelona meskipun mereka bukan penggemar klub Catalan tersebut. Aksi individu, dribel, gol, assist, visi permainan dan kemampuan menciptakan sesuatu dari situasi yang tampaknya biasa membuat pertandingan Barcelona selalu memiliki daya tarik ketika Messi bermain.

Baena merasa Yamal mulai memberikan sensasi yang serupa.

“Saya menonton Barca karena Lamine. Jika dia tidak bermain, sangat sulit bagi saya untuk menonton,” ujar Baena.

Pengakuan itu menunjukkan betapa tinggi penilaian Baena terhadap perkembangan Yamal.

Pada usia yang masih sangat muda, Yamal sudah mampu menjadi salah satu pemain paling diperhatikan di dunia sepak bola. Ia bukan lagi sekadar produk akademi Barcelona yang sedang mencari tempat di tim utama.

Yamal kini menjadi salah satu pusat permainan Barcelona.

Setiap kali mendapatkan bola di sisi lapangan, perhatian penonton langsung tertuju kepadanya. Ia bisa mencoba melewati lawan, mengirim umpan berbahaya, masuk ke area penalti atau mengambil keputusan yang tidak selalu bisa diprediksi pemain bertahan.

Bagi Baena, kemampuan seperti itulah yang membuat Yamal berbeda.

Yang menarik, pujian tersebut muncul ketika perdebatan mengenai Ballon d'Or 2026 semakin panas.

Yamal sendiri baru-baru ini berbicara cukup percaya diri mengenai peluangnya meraih penghargaan bergengsi tersebut. Ia menilai dirinya pantas berada di posisi teratas setelah menjalani musim yang sangat sukses bersama Barcelona dan tim nasional Spanyol.

Reuters melaporkan bahwa Yamal menyebut dirinya dan Kylian Mbappe sebagai dua pemain terbaik dunia dalam pandangannya. Ia juga menyoroti keberhasilannya memenangkan LaLiga bersama Barcelona serta membantu Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026.

Namun, Baena mempunyai pandangan yang sedikit berbeda mengenai tiga nama yang menurutnya layak berada di posisi teratas.

Jika Yamal memasukkan Mbappe sebagai pesaing utama, Baena justru memasukkan tiga nama yang terdiri dari Yamal, Rodri dan Lionel Messi.

Pilihan tersebut cukup menarik karena ketiganya memiliki cerita berbeda.

Yamal mewakili generasi muda yang sedang naik dengan sangat cepat. Rodri merupakan gelandang yang sudah lama berada di level tertinggi sepak bola Eropa. Sementara Messi, meskipun sudah berada di usia 39 tahun, menurut Baena masih mampu melakukan sesuatu yang sulit dilakukan pemain lain.

Baena secara khusus memberikan penghormatan kepada Messi.

“Rodri membuktikannya di Piala Dunia, dan Messi, dengan apa yang dia lakukan pada usia 39 tahun, sangat sulit bagi pemain mana pun untuk melakukan hal yang sama,” jelas Baena.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Baena, usia bukan satu-satunya ukuran dalam menilai kualitas seorang pemain.

Messi tetap mampu mempertahankan standar tinggi meskipun memasuki fase akhir kariernya. Sementara itu, Yamal justru berada di sisi yang berlawanan: baru memasuki awal karier tetapi sudah memiliki pengaruh yang sangat besar.

Di antara dua generasi tersebut, Rodri hadir sebagai pemain yang berada di tengah. Ia memiliki pengalaman, kualitas teknis dan prestasi yang membuat Baena menempatkannya bersama Yamal dan Messi.

Namun, perhatian terbesar tentu tetap tertuju kepada Yamal.

Pasalnya, Baena bukan hanya memasukkan Yamal ke dalam daftar tiga besar. Ia secara tegas menyebut winger Barcelona tersebut sebagai pemain terbaik dunia menurut penilaiannya.

Pujian itu semakin kuat karena Baena melihat langsung bagaimana Yamal berlatih.

Menurutnya, ada sejumlah hal yang dilakukan Yamal dalam latihan yang tidak biasa dilakukan pemain lain.

“Dia melakukan hal-hal yang tidak Anda lihat dilakukan pesepakbola profesional lain,” ujar Baena.

Kalimat tersebut memberikan gambaran bahwa kualitas Yamal tidak hanya terlihat ketika pertandingan berlangsung.

Ada detail-detail kecil dalam latihan yang membuat Baena terkesan. Kemampuan teknis, keberanian mengambil keputusan, kreativitas dan cara Yamal menggunakan bola menjadi bagian dari alasan mengapa dirinya begitu dihargai oleh sesama pemain.

Barcelona tentu sangat diuntungkan dengan situasi tersebut.

Memiliki pemain muda yang mendapatkan pengakuan dari pemain klub lain merupakan sesuatu yang penting. Terlebih lagi jika pujian datang dari pemain yang juga berada di level tertinggi sepak bola Spanyol.

Baena sendiri sebelumnya sudah pernah mengakui ketertarikannya terhadap Barcelona.

Ketika masih memperkuat Villarreal, ia pernah menyebut bermain untuk Barcelona sebagai salah satu impian terbesarnya. Kini, setelah bergabung dengan Atletico Madrid, Baena tetap mengikuti perkembangan klub Catalan tersebut.

Namun, ada perubahan alasan.

Dulu, Messi menjadi salah satu alasan utama dirinya menonton Barcelona.

Sekarang, Lamine Yamal mengambil posisi tersebut.

Perubahan tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana generasi sepak bola mulai bergeser. Messi selama lebih dari satu dekade menjadi simbol utama Barcelona dan salah satu alasan terbesar mengapa orang di seluruh dunia mengikuti pertandingan klub tersebut.

Setelah era Messi berakhir di Barcelona, klub Catalan membutuhkan sosok baru yang mampu menjadi pusat perhatian.

Yamal perlahan-lahan mengisi ruang tersebut.

Ia memang belum memiliki pencapaian sepanjang Messi. Kariernya juga masih sangat jauh dari selesai. Tetapi kemampuan membuat orang ingin menonton pertandingan hanya karena dirinya bermain adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.

Dan Baena merasakan hal tersebut secara langsung.

Pengakuan ini juga datang di tengah performa Barcelona yang sedang menjadi sorotan besar.

Tim asuhan Hansi Flick mengawali musim dengan sangat impresif. Barcelona berhasil memenangkan tujuh pertandingan kompetitif pertama mereka, termasuk enam kemenangan di LaLiga dan kemenangan besar atas Racing Santander serta Feyenoord di Liga Champions.

Dalam pertandingan melawan Racing Santander, Barcelona menang 7-2 dengan Raphinha mencetak hat-trick. Lamine Yamal juga mencetak gol dalam pertandingan tersebut setelah sebelumnya gagal mengeksekusi penalti.

Performa tersebut semakin memperkuat posisi Yamal sebagai salah satu pemain utama Barcelona.

Namun, daya tarik Yamal bukan hanya mengenai statistik.

Ada unsur hiburan yang membuat permainannya berbeda. Ia berani menghadapi lawan dalam situasi satu lawan satu. Ia tidak takut mengambil risiko. Ketika berada di area berbahaya, Yamal dapat menciptakan peluang yang tidak mudah diprediksi.

Hal itulah yang membuat pemain seperti Baena tertarik.

Seorang pemain profesional biasanya lebih memahami kesulitan melakukan aksi tertentu dibandingkan penonton biasa. Ketika Baena mengatakan bahwa ia tidak melihat pemain lain melakukan hal yang sama seperti Yamal dalam latihan, komentar tersebut menjadi bentuk penghargaan yang cukup besar.

Namun, pujian sebesar itu juga membawa konsekuensi.

Semakin tinggi ekspektasi, semakin besar tekanan yang harus dihadapi Yamal.

Saat ini, setiap pertandingan Barcelona selalu menjadi kesempatan bagi publik untuk menilai apakah Yamal mampu mempertahankan level permainannya. Setiap kesalahan juga akan mendapat sorotan lebih besar.

Apalagi Yamal sendiri tidak menyembunyikan ambisinya.

Ia percaya dirinya memiliki peluang untuk memenangkan Ballon d'Or. Ia bahkan secara terbuka menyebut Mbappe sebagai salah satu pesaing terbesarnya.

Baena datang dengan penilaian berbeda. Menurutnya, Yamal berada di atas pemain lain dan layak masuk tiga besar bersama Rodri dan Messi.

Tentu saja, daftar tersebut adalah pendapat pribadi Baena. Ballon d'Or sendiri ditentukan melalui proses pemungutan suara dan kriteria resmi yang tidak ditentukan oleh satu pemain atau satu klub.

Namun, komentar Baena tetap memiliki arti karena memperlihatkan bagaimana Yamal dipandang oleh sesama pesepakbola.

Lebih menarik lagi, Yamal sendiri pernah mengkritik bagaimana Ballon d'Or dinilai pada era setelah Messi dan Cristiano Ronaldo.

Menurut Yamal, ketika Messi dan Cristiano masih berada di puncak, banyak orang merasa sudah jelas siapa pemain terbaik dunia. Kini, menurutnya, penilaian menjadi lebih kompleks dan faktor-faktor seperti keberhasilan meraih trofi klub ikut memengaruhi perdebatan.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Yamal memahami besarnya persaingan untuk mendapatkan penghargaan individu.

Ia tidak hanya ingin menjadi pemain penting bagi Barcelona. Ia juga ingin diakui sebagai salah satu pemain terbaik di dunia.

Dan sekarang, dukungan datang dari berbagai arah.

Salah satunya dari Alex Baena.

Pemain Atletico tersebut bahkan memberikan gambaran yang sangat sederhana tentang bagaimana ia melihat Yamal.

Jika Messi dulu membuatnya menonton Barcelona, kini Yamal mengambil alih alasan tersebut.

Itu bukan sekadar pujian biasa.

Bagi seorang pemain profesional, mengatakan bahwa dirinya menonton klub rival hanya karena ingin menyaksikan satu pemain bermain menunjukkan betapa kuatnya daya tarik sang pemain.

Yamal kini berada pada tahap karier ketika setiap gerakannya menjadi perhatian.

Namun di balik semua itu, ia masih merupakan pemain muda yang terus berkembang. Ia masih harus menjaga konsistensi, menghadapi tekanan dan membuktikan bahwa performa luar biasa yang ditunjukkannya bukan sekadar fase sementara.

Baena sendiri tampaknya tidak memiliki keraguan.

Setelah melihat Yamal dalam pertandingan dan latihan, ia merasa pemain muda tersebut memiliki kualitas yang jarang ditemukan.

Bahkan, menurutnya, hanya sedikit pemain dalam sepak bola profesional yang mampu membuatnya menonton pertandingan khusus untuk melihat aksi mereka.

Messi pernah menjadi pemain tersebut.

Sekarang, Lamine Yamal adalah pemain berikutnya.

Dan jika Yamal terus berkembang dengan kecepatan yang sama, bukan mustahil semakin banyak pemain profesional yang nantinya memiliki alasan serupa dengan Baena.

Sementara itu, persaingan Ballon d'Or terus memasuki fase penting. Yamal, Mbappe, Rodri, Messi dan sejumlah nama lain akan terus menjadi bahan perdebatan sampai pemenang penghargaan diumumkan.

Untuk Baena, pilihannya sudah jelas.

Lamine Yamal berada di puncak.

Rodri berada di antara pemain terbaik menurutnya.

Dan Messi tetap mendapatkan tempat meskipun usianya sudah 39 tahun.

Namun satu hal yang paling mencuri perhatian dari pengakuan Baena bukanlah daftar tiga besar tersebut.

Melainkan kalimat sederhana yang menggambarkan betapa besar daya tarik Yamal di matanya:

Dulu ia menonton Barcelona karena Messi.

Sekarang, ia menonton Barcelona karena Lamine.

Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa bagi salah satu pemain profesional Spanyol, era baru Barcelona mungkin memang sudah memiliki wajah baru.