Chelsea kembali mendapatkan sorotan tajam setelah menelan kekalahan 1-2 dari Arsenal dalam derby London di Emirates Stadium. Kekalahan tersebut bukan sekadar membuat Chelsea kehilangan tiga poin, tetapi juga membuka satu persoalan besar yang selama bursa transfer musim panas sebenarnya sudah mulai terlihat: kedalaman lini tengah mereka ternyata masih jauh dari kata aman.
Situasi tersebut menjadi semakin mengejutkan karena Chelsea baru saja menghabiskan sekitar £349 juta untuk mendatangkan pemain-pemain baru pada bursa transfer musim panas. Klub London Barat itu melakukan perombakan besar-besaran setelah menunjuk Xabi Alonso sebagai manajer baru. Namun, pertandingan melawan Arsenal memperlihatkan bahwa uang dalam jumlah besar ternyata belum mampu menutup seluruh lubang di dalam skuad.
Chelsea bahkan mengakhiri pertandingan dengan dua pemain yang pada awal kariernya dikenal sebagai bek kanan, Reece James dan Malo Gusto, bermain di area lini tengah. Kondisi tersebut tentu menimbulkan pertanyaan besar.
Bagaimana mungkin klub yang menghabiskan ratusan juta poundsterling justru harus mengandalkan dua pemain yang bukan gelandang natural ketika menghadapi juara bertahan Premier League?
Pertanyaan itu kini menjadi salah satu masalah terbesar yang harus segera dijawab Alonso.
Arsenal Membongkar Kelemahan Chelsea
Pertandingan Arsenal kontra Chelsea sebenarnya dimulai dengan sangat baik bagi tim tamu. Morgan Rogers hanya membutuhkan waktu dua menit untuk mencetak gol pembuka. Pemain yang didatangkan Chelsea dengan biaya rekor klub itu kembali menunjukkan mengapa dirinya menjadi salah satu bagian penting dari proyek baru Alonso.
Namun Arsenal tidak panik.
The Gunners mampu bangkit dan perlahan mengendalikan pertandingan. Kai Havertz mencetak gol penyama kedudukan, sebelum Martin Odegaard muncul sebagai penentu kemenangan Arsenal.
Gol Odegaard tersebut menjadi gambaran kecil dari persoalan yang sedang dihadapi Chelsea.
Reece James mendapatkan tugas untuk mengawal kapten Arsenal tersebut. Namun dalam momen penting itu, James gagal mengikuti pergerakan Odegaard dengan sempurna. Sang gelandang Norwegia kemudian mendapatkan ruang dan memanfaatkannya untuk mencetak gol kemenangan.
Kesalahan tersebut memang hanya berlangsung dalam satu momen. Namun persoalan Chelsea sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar kesalahan individu.
Setelah Romeo Lavia ditarik keluar, Alonso justru memasukkan Malo Gusto dan memainkannya di lini tengah. Dengan demikian, Chelsea memiliki Reece James dan Gusto sebagai dua pemain yang secara natural merupakan bek kanan, tetapi harus beroperasi di sektor tengah.
Penggunaan James sebagai gelandang sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Alonso bahkan sudah memberikan pujian tinggi kepadanya sebelum pertandingan. Sang pelatih menilai James memiliki kualitas untuk berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia.
James juga memang pernah menghabiskan hampir separuh musim sebelumnya bermain di lini tengah.
Tetapi ketika dua bek kanan harus dimainkan bersamaan sebagai gelandang dalam pertandingan sebesar Arsenal kontra Chelsea, situasinya tentu berbeda. Ini menjadi indikasi bahwa masalah kedalaman skuad Chelsea bukan sekadar teori. Masalah tersebut mulai terlihat nyata di atas lapangan.
£349 Juta, Tetapi Mengapa Lini Tengah Masih Bermasalah?
Pertanyaan mengenai lini tengah Chelsea semakin besar jika melihat aktivitas mereka sepanjang bursa transfer musim panas.
Chelsea mengeluarkan sekitar £349 juta untuk 11 pemain baru. Morgan Rogers menjadi salah satu pembelian terbesar, sementara Emiliano Martinez, Maxence Lacroix, Danny Welbeck, Jordan Henderson, Valentin Barco, Marco Palestra, Pep Chavarria, Geovany Quenda dan Emmanuel Emegha juga masuk dalam proyek baru Alonso.
Secara teori, skuad Chelsea seharusnya semakin kuat.
Namun ada sebuah keputusan yang kini mulai terlihat berisiko.
Chelsea melepas Enzo Fernandez ke Manchester City dengan nilai transfer £125 juta, sebuah angka yang menyamai rekor transfer Inggris. Masalahnya, kepergian Fernandez tidak diikuti kedatangan seorang gelandang yang benar-benar diproyeksikan sebagai pengganti langsung.
Chelsea memang berusaha mencari solusi.
Mereka mengejar Lamine Camara dari Monaco. Namun transfer senilai sekitar £47 juta itu gagal pada saat-saat terakhir. Chelsea juga pernah mengajukan tawaran hingga £64 juta untuk Alex Scott dari Bournemouth, tetapi proposal tersebut ditolak.
Upaya mendapatkan Manu Kone juga tidak berakhir sesuai harapan karena kepindahan pemain tersebut terganjal situasi di klubnya.
Pada akhirnya, jendela transfer ditutup tanpa Chelsea mendapatkan gelandang tambahan yang mereka incar.
Keputusan itu mungkin tidak terlalu terasa ketika seluruh pemain tersedia. Namun cedera Moises Caicedo membuat masalah tersebut langsung muncul ke permukaan.
Cedera Caicedo Membuat Alonso Pusing
Moises Caicedo merupakan salah satu pemain terpenting dalam struktur permainan Chelsea.
Gelandang asal Ekuador tersebut sebenarnya sangat jarang absen. Dalam tiga musim sebelumnya, selain karena skorsing, Caicedo hanya melewatkan dua pertandingan akibat masalah kebugaran dan sakit.
Namun sekarang Chelsea harus bermain tanpa dirinya.
Caicedo mengalami masalah setelah hanya tampil selama 11 menit sebagai pemain pengganti ketika Chelsea menghadapi Brighton. Sampai sekarang, Chelsea belum memberikan penjelasan mengenai detail cedera tersebut dan belum menetapkan tanggal pasti kapan sang pemain bisa kembali.
Alonso sendiri mencoba berhati-hati.
Ia menegaskan bahwa cedera Caicedo tidak diperkirakan sebagai masalah jangka panjang. Tetapi sang pelatih juga tidak ingin melakukan kesalahan dengan memaksakan sang pemain kembali terlalu cepat.
Menurut Alonso, Chelsea mungkin telah mengembalikan Caicedo ke lapangan terlalu dini ketika melawan Brighton. Karena itu, ia tidak ingin mengambil risiko yang sama.
Persoalannya, ketidakhadiran Caicedo terjadi pada saat Chelsea justru membutuhkan pemain tengah tambahan.
Jordan Henderson juga belum tersedia karena masih menjalani pemulihan dari cedera patah tulang lengan. Sementara itu, Valentin Barco, yang sebenarnya merupakan gelandang natural dan baru bergabung dari Strasbourg, belum menjadi pilihan utama Alonso.
Alhasil, pelatih asal Spanyol tersebut harus mencari solusi alternatif.
Salah satunya adalah memainkan Reece James.
Dan solusi tersebut kembali terlihat ketika Chelsea menghadapi Arsenal.
Arsenal Punya Keuntungan dari Bangku Cadangan
Selain masalah komposisi lini tengah, pertandingan di Emirates juga menunjukkan perbedaan kualitas pilihan pemain pengganti kedua tim.
Arsenal memiliki kemampuan untuk mengubah jalannya pertandingan melalui pergantian pemain. Mikel Arteta mampu memasukkan pemain yang memberikan energi dan variasi baru ketika Chelsea mulai kesulitan mempertahankan struktur pertahanannya.
Sebaliknya, Alonso tidak memiliki banyak pilihan kreatif dari bangku cadangan.
Situasi tersebut membuat Chelsea terlihat semakin bergantung kepada para pemain depan mereka.
Morgan Rogers tampil impresif sejak awal musim. Cole Palmer juga mulai menunjukkan tanda-tanda kembali ke performa terbaiknya. Sementara Joao Pedro menjadi salah satu sumber ancaman utama di lini depan.
Namun sepak bola tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemain menyerang.
Ketika lini tengah kehilangan kontrol, para penyerang Chelsea bisa kesulitan mendapatkan suplai bola. Hal tersebut terlihat dalam pertandingan melawan Arsenal.
Chelsea cenderung lebih banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik. Mereka memang memiliki beberapa pemain cepat yang bisa mengancam ketika mendapatkan ruang, tetapi Arsenal mampu membatasi efektivitas skema tersebut.
Ashley Young bahkan menyoroti kondisi tersebut.
Menurutnya, Chelsea memang tidak bermain di kompetisi Eropa musim ini sehingga secara teori mereka memiliki lebih sedikit pertandingan dan bisa memusatkan perhatian kepada Premier League.
Namun, fakta bahwa Chelsea harus mengakhiri pertandingan melawan juara bertahan dengan dua bek kanan bermain di lini tengah tetap menjadi tanda tanya besar.
Jika lawan-lawan berikutnya melihat kelemahan tersebut, Chelsea berpotensi menghadapi masalah serupa berulang kali.
Penguasaan Bola Chelsea Mulai Mengkhawatirkan
Salah satu statistik yang paling menggambarkan persoalan tersebut muncul ketika Chelsea menghadapi Brighton.
Dalam kemenangan dramatis 4-3 itu, Chelsea hanya menguasai 25,6 persen penguasaan bola. Angka tersebut menjadi yang terendah bagi Chelsea sejak data penguasaan bola mulai dicatat pada musim 2003/04.
Memang, memenangkan pertandingan tetap menjadi tujuan utama.
Chelsea berhasil mengalahkan Brighton meskipun tidak banyak menguasai bola. Mereka juga hampir memberikan kejutan kepada Arsenal setelah Rogers mencetak gol cepat.
Namun jika pola tersebut terus berlanjut, Chelsea akan menghadapi pertanyaan besar mengenai bagaimana mereka ingin bermain di bawah Alonso.
Apakah Chelsea memang sengaja akan menjadi tim yang lebih reaktif, bertahan rapat dan kemudian melakukan serangan balik?
Atau sebenarnya Alonso ingin timnya mampu mengontrol pertandingan melalui lini tengah?
Jika pilihan kedua yang diinginkan, maka kekurangan gelandang natural bisa menjadi masalah serius.
Terlebih lagi, Chelsea telah kehilangan Enzo Fernandez tanpa mendapatkan pengganti langsung.
Alonso sendiri sebelumnya menegaskan bahwa Chelsea memiliki cukup banyak pemain untuk menjalani musim. Absennya pertandingan Eropa memang membuat beban jadwal mereka lebih ringan.
Namun Premier League tetap merupakan kompetisi yang sangat panjang.
Cedera satu atau dua pemain kunci bisa mengubah seluruh perhitungan. Dan saat ini, situasi tersebut mulai terjadi di Stamford Bridge.
Pertahanan Juga Belum Meyakinkan
Ironisnya, persoalan Chelsea bukan hanya berada di lini tengah.
Tim asuhan Alonso juga sudah kebobolan tujuh gol dalam tiga pertandingan Premier League pertama mereka.
Artinya, meskipun lini depan terlihat menjanjikan, pertahanan Chelsea masih jauh dari kata solid.
Morgan Rogers menjadi salah satu pemain paling menonjol. Ia bahkan mencetak gol atau memberikan assist dalam tiga pertandingan Premier League pertama Chelsea musim ini, sebuah pencapaian yang sebelumnya terakhir dilakukan pemain Chelsea sejak Eden Hazard pada musim 2018/19.
Cole Palmer juga mulai menemukan kembali sentuhan terbaiknya.
Joao Pedro menunjukkan ketajamannya.
Namun di sisi lain, Chelsea masih memberikan terlalu banyak ruang kepada lawan.
Alonso sendiri mengakui bahwa timnya perlu menjadi lebih kompak dan solid ketika bertahan.
Ini menunjukkan bahwa proyek Chelsea masih berada dalam tahap awal.
Alonso datang dengan visi baru. Ia melakukan perubahan besar terhadap skuad dan klub juga memberikan dukungan finansial yang sangat besar untuk membangun tim sesuai dengan kebutuhan sang pelatih.
Tetapi pertandingan melawan Arsenal menjadi pengingat bahwa proses tersebut belum selesai.
Arsenal Masih Menjadi Patokan
Ada satu kesimpulan penting yang bisa ditarik dari pertandingan di Emirates.
Chelsea memang semakin kuat, tetapi Arsenal masih menjadi standar yang harus mereka kejar.
The Gunners berhasil menunjukkan bagaimana sebuah tim yang sudah memiliki struktur kuat dapat mengatasi situasi sulit. Ketika Chelsea mencetak gol cepat, Arsenal tidak kehilangan kendali. Mereka tetap bermain dengan rencana dan akhirnya membalikkan keadaan.
Odegaard kemudian menjadi pemain yang menentukan kemenangan.
Bagi Chelsea, kekalahan tersebut memang menyakitkan, tetapi Alonso berusaha menjaga suasana di dalam ruang ganti.
Ia menilai timnya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Arsenal dalam hal level permainan. Hanya saja, pada pertandingan kali ini, momentum lebih berpihak kepada tuan rumah.
Alonso juga menegaskan bahwa ini baru kekalahan pertama dan perjalanan musim masih sangat panjang.
Pernyataan tersebut masuk akal.
Chelsea masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki masalah yang muncul. Apalagi mereka tidak bermain di kompetisi Eropa musim ini sehingga memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan latihan dan pemulihan.
Tetapi justru karena itu, masalah lini tengah harus segera diselesaikan.
Jika Caicedo segera kembali dan mampu menjaga kebugarannya, persoalan mungkin dapat mereda. Chelsea memiliki sejumlah pemain yang dapat mengisi area tersebut.
Namun jika Caicedo kembali mengalami masalah atau pemain lain ikut cedera, keputusan Chelsea untuk tidak mendatangkan pengganti Enzo Fernandez bisa kembali menjadi sorotan.
Januari Bisa Menjadi Momen Penting Chelsea
Bursa transfer musim panas sudah ditutup. Artinya, Alonso tidak bisa lagi mendatangkan gelandang baru dalam waktu dekat.
Pilihan yang tersedia sekarang hanya memaksimalkan pemain yang ada.
Inilah tantangan sebenarnya bagi Alonso.
Ia harus menemukan formula yang mampu membuat lini tengah Chelsea tetap kompetitif tanpa harus terus-menerus memindahkan bek kanan ke posisi gelandang.
Jika solusi tersebut tidak ditemukan, Chelsea kemungkinan besar akan kembali memasuki bursa transfer Januari dengan kebutuhan yang sangat jelas.
Menariknya, Alonso sendiri menyebut musim panas ini sebagai "fase pertama" dari proyeknya.
Artinya, perubahan yang terjadi sekarang memang belum dianggap sebagai hasil akhir.
Chelsea telah menghabiskan £349 juta untuk membangun kembali skuad. Mereka juga melepas puluhan pemain dan melakukan perombakan besar terhadap komposisi tim.
Namun pertandingan melawan Arsenal memperlihatkan satu ironi besar.
Uang sebanyak itu belum menjamin semua persoalan selesai.
Chelsea memiliki lini depan yang menakutkan. Mereka punya pemain-pemain muda berbakat. Mereka juga memiliki Morgan Rogers, Cole Palmer dan Joao Pedro yang bisa menjadi ancaman bagi pertahanan lawan.
Tetapi di tengah lapangan, Arsenal berhasil menemukan celah.
Dan ketika pertandingan memasuki fase paling menentukan, Chelsea justru harus mengandalkan dua pemain yang posisi alaminya adalah bek kanan.
Itulah gambaran paling jelas dari masalah yang sedang dihadapi Xabi Alonso.
£349 juta mungkin telah membuat Chelsea berubah besar-besaran. Namun uang tersebut belum otomatis menjadikan mereka sebagai tim yang siap menantang Arsenal.
The Blues masih membutuhkan keseimbangan.
Mereka membutuhkan lini tengah yang mampu mengontrol pertandingan, pertahanan yang lebih solid, serta kedalaman skuad yang cukup ketika pemain utama mengalami cedera.
Jika tidak, kekalahan 1-2 dari Arsenal bisa menjadi lebih dari sekadar kekalahan dalam derby London.
Pertandingan tersebut bisa menjadi peringatan awal bahwa proyek besar Chelsea masih menyisakan lubang yang cukup dalam.
Dan sekarang, tugas Alonso adalah membuktikan bahwa lubang tersebut dapat ditutup tanpa harus menunggu sampai bursa transfer Januari dibuka.
